SEJARAH EUGENIKA I: Dari Biologi ke Biopolitik

Kalangan menengah atau priyayi di Jawa tentu tidak asing dengan istilah ‘bibit, bebet dan bobot’, khususnya terkait dengan perencanaan perkawinan dan pembentukan keluarga. Ide perkawinan selektif untuk memelihara keunggulan satu kelompok manusia atas kelompok lainnya umumnya dianut oleh para aristokrat. Sangat mungkin bahwa ia juga berhubungan dengan wacana saintifik yang populer sejak akhir abad ke-19 yaitu ‘eugenics’ (eugenika) dan telah diterapkan di negara-negara Barat dan berbagai jajahannya setidaknya pada paruh pertama abad keduapuluh.

Gerakan eugenika telah menjadi salah satu bagian paling kontroversial dalam sejarah sains, karena hubungannya dengan praktik segregasi ras hingga pemusnahan manusia (genosida) secara sistematis oleh berbagai rezim fasis termasuk nasional-sosialis (Nazi) di Jerman. Tetapi ia juga mengilhami kebijakan kontrol kelahiran (birth control) dan kepengasuhan terencana (planned parenthood) yang kemudian dikenal sebagai keluarga berencana (KB).

Saya akan memaparkan sejarah eugenika dalam dua bagian secara bersambung. Bagian pertama membahas kemunculan eugenika sebagai cabang sains evolusioner tentang pewarisan sifat (hereditas), dan penerapannya secara positif sebagai upaya perbaikan kualitas hidup generasi mendatang. Sementara bagian kedua mendiskusikan berbagai sisi kontroversial eugenika sebagai praktik biopolitik yang pada akhirnya dikecam oleh sejumlah kalangan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Awal Eugenika: Evolusi, ras dan hereditas

Pemikiran spekulatif tentang pewarisan sifat secara turun-temurun sudah ada sejak zaman kuno, namun baru menjadi objek penyelidikan ilmiah ketika teori evolusi biologis digagas oleh naturalis Inggris, Charles Darwin (1809-1882) dan pionir ilmu genetika, Gregor J. Mendel (1822-1884). Intinya, terdapat suatu mekanisme pewarisan sifat individu melalui unit penyimpan informasi yang disebut ‘gen’. Juga bahwa gen dan sifat-sifat yang diwariskan dapat mengalami perubahan/mutasi sebagai respons adaptif terhadap lingkungan.

Sebagai efek akumulatif dari mutasi genetik terjadilah variasi-variasi baru dari spesies makhluk hidup. Dari berbagai temuan Darwin dalam bukunya ‘On the Origin of Species’ (1859) dan ‘The Descent of Man’ (1871) lantas memunculkan postulat seleksi alamiah, bahwa hanya varian-varian yang paling sesuai dan adaptif akan menjadi kuat dan bertahan hidup.

Selain terkait biologi evolusioner, konsep eugenika tidak terlepas dari kemunculan ‘rasisme ilmiah’ (scientific racism) ala Arthur de Gobineau ataupun Darwinisme sosial. Ini adalah pandangan pseudo-ilmiah yang muncul dari kepercayaan bangsa-bangsa Eropa akan ‘misi pemberadaban’ sebagai konsekuensi etis atas penjajahan atau eksploitasi terhadap dunia non-Eropa. Perkembangan studi antropologi maupun disiplin protosains semacam frenologi (phrenology) menjelaskan keterkaitan antara aspek fisiologis suatu kelompok manusia dengan karakter dan kapasitas kognitifnya.

Tokoh kunci pencetus konsep eugenika itu adalah Francis Galton (1822-1911), ilmuwan multidisipliner yang masih sepupu dari Charles Darwin. Berbeda dengan Darwin yang bertolak dari biologi dan geologi untuk menjelaskan variasi dan evolusi spesies, Galton menggunakan metode statistik-matematis untuk memetakan pola pewarisan sifat pada manusia. Gagasan dasarnya adalah jika evolusi biologis mampu menghasilkan spesies manusia cerdas dalam kurun waktu jutaan tahun, maka intervensi melalui rekayasa sains (genetika) akan mempercepat evolusi dalam hitungan ratusan atau bahkan puluhan tahun untuk menghasilkan perbaikan ras manusia.

Tulisan Galton, ‘Hereditary Genius’ (1869) mendukung ide tentang kecerdasan yang diwariskan – meski dapat diperkuat oleh pendidikan. Hal ini kemudian memunculkan perdebatan filosofis-saintifik seputar seberapa besar pengaruh ‘nature’ (sifat alamiah/bawaan) dan’nurture’ (sifat yg dibentuk oleh masyarakat/peradaban) dalam pembentukan karakter manusia. Hingga saat itu dalam tradisi empirisme Lockean, ilmu pengetahuan cenderung mengamini bahwa manusia pada fitrahnya adalah ‘kertas polos’ (tabula rasa); namun, risalah Galton menyebabkan orang mulai mempelajari kembali ide tentang potensi bawaan dari manusia.

Akhirnya pada tahun 1883, setahun setelah kematian Darwin, Galton menerbitkan tulisan berjudul ‘Inquiries into human faculties and its development’ di mana ia menjabarkan ide ‘seleksi non-alamiah’ yang dinamainya sebagai eugenika (dari ‘eu’ dan ‘gene’, yang berarti gen/benih yang baik). Dalam implementasinya, konsep ini dibedakan menjadi dua macam; Pertama, eugenika positif untuk mendukung perkawinan antar individu dengan sifat bawaan yang sesuai (fit) agar memiliki banyak keturunan; Kedua, eugenika negatif yang bertujuan mencegah perkawinan atau reproduksi individu-individu dengan sifat yang tidak sesuai (unfit) atau degeneratif – mereka yg memiliki penyakit atau cacat bawaan baik fisik ataupun mental.

Biopolitik Perkawinan dan Keluarga

Eugenika mendapat dukungan lebih luas dan menjadi bermuatan politis setelah Francis Galton mempresentasikan ide itu dalam pertemuan di London School of Economics pada tahun 1904, yang dihadiri oleh para intelektual dari perkumpulan Fabian seperti G. Bernard Shaw dan H.G. Wells. Jauh sebelum itu, kalangan sosialis Fabian telah menjadi pendukung antusias gagasan Darwin dan Thomas Malthus terkait kontrol populasi sebagai metode perbaikan kesejahteraan – seperti Annie Besant yg ikut mendirikan Malthusian League.

Di samping kelompok Fabian yg segera menjadi salah satu corong utama eugenika di Britania, dukungan paling signifikan berasal dari keluarga Huxley; Mereka adalah kakak beradik Julian Huxley yang kemudian menjadi presiden British Eugenics Society pada tahun 1959, dan Aldous Huxley, pemikir dan penulis novel distopian klasik ‘Brave New World’ (1932). Keduanya adalah cucu Thomas Henry Huxley, ilmuwan evolusionis yg mendapat sebutan ‘Darwin’s bulldog’ sekaligus tokoh pencetus istilah ‘agnostisisme’ sebagai sebentuk sikap skeptis terhadap klaim teologis-metafisik.

Pada awal abad keduapuluh, eugenika menjadi gerakan dan kebijakan biopolitis, ketika bersinggungan dengan setidaknya dua hal: politik negara kesejahteraan Barat – berikut perpanjangannya di negeri-negeri jajahan mereka – dan aliran pembebasan pemikiran (freethought) termasuk feminisme.

Pusat terpenting dari persinggungan gerakan eugenika dan feminis berlangsung di Amerika Serikat pada era progresif (1900-1920) yang memunculkan gerakan pengendalian angka kelahiran (birth control movement) dengan pelopornya yaitu Margaret Sanger (1879-1966).

Pada awalnya para eugenis seperti Galton tidak sepakat dengan ide kaum (neo-)Malthusian karena mengkhawatirkan bahwa kontrol populasi tanpa pandang bulu akan mengeliminasi orang-orang yang memiliki sifat bawaan unggul. Sanger, dalam hal ini berhasil menjadi penghubung gerakan neo-Malthusian dengan eugenika karena kepedulian feminis-nya pada masalah kesehatan reproduksi perempuan.

Para feminis baik di Eropa maupun Amerika karena pengaruh aliran para pemikir bebas (lihat tulisan saya sebelumnya), mulai mengubah fokus perjuangannya dari hak pilih (suffrage) dan partisipasi publik, menuju hak reproduksi dan ‘self-control’ atas tubuh dan seksualitas. Ada beberapa alasan mengapa penggunaan kontrasepsi, kontrol kesuburan dan eugenika menjadi preferensi mereka.

Adanya kontrol kelahiran/kesuburan sangat mungkin menjadi salah satu solusi dari konflik antara peran publik dan domestik-keibuan perempuan. Sementara itu prinsip eugenika menurut beberapa feminis dianggap mampu melindungi perempuan dari perkawinan yang tidak layak, sekaligus melindungi (bakal) keturunan mereka; Meski kalangan progresif dan kiri cenderung menghindari bias yang bersifat rasis, namun ada anggapan bahwa pria lemah mental-intelektual berpotensi menjadi penjahat seksual, dan kaum terdidik bisa dipersalahkan jika menjadi sebab dari lahirnya anak-anak degeneratif dan terbelakang secara mental.

Selama tahun 1920-an, gerakan pengendalian kelahiran dan eugenika berkembang pesat di berbagai belahan dunia Barat dan koloni-koloninya. Selain menginisiasi dibentuknya American Birth Control League, Margaret Sanger berkeliling Asia termasuk Cina dan Jepang untuk mempromosikan didirikannya pusat-pusat keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.

Namun perkembangan fasisme di Eropa pada saat yang hampir bersamaan mengubah arah gerakan eugenika yang semula lebih mengutamakan eugenika positif menjadi eugenika negatif yang bertujuan pada eliminasi terencana dan masif dari ras atau kelompok manusia yang memilki potensi degeneratif. Persoalan ini akan menjadi topik bahasan dari tulisan berikutnya.

Referensi:
Alison Bashford & Philippa Levine (ed), ‘The Oxford Handbook of the History of Eugenics’, Oxford University Press, 2010
Ann Taylor Allen, ‘Feminism and Motherhood in Western Europe, 1890-1970: The Maternal Dilemma’, Palgrave Macmillan, 2005
Elof Axel Carlson, ‘The Unfit : A History of a Bad Idea’, Cold Spring Harbor Laboratory Press, 2001
Siddharta Mukherjee, ‘Gen : Perjalanan menuju pusat kehidupan’, Kepustakaan Populer Gramedia, 2020

Ilustrasi: bankowsa.eu

One Comment on “SEJARAH EUGENIKA I: Dari Biologi ke Biopolitik”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *