Sains Sebagai Pharmakon

Ketika kita memasuki apotek sering kali kita melihat gambar ular yang melilit cawan. Lambang seperti ini dikenal sebagai ‘Cawan Hygeiea’ yang menjadi representasi dari bidang obat-obatan atau farmasi. Kita tahu sebagian ular memiliki bisa atau racun yang mematikan. Namun di tangan mereka yang ahli, bisa atau racun ini dapat menjadi sarana untuk mengobati mereka yang sakit. Racun berubah menjadi obat. Pada akhirnya, cawan dan ular menjadi lambang dari dunia farmasi.

Farmasi sendiri berasal dari kata bahasa Yunani ‘pharmakon’. Secara filsafati, kata ‘pharmakon’ dibahas dalam teks Plato yang berjudul “Phaedrus”. Derrida mengangkat kembali kata ini untuk menjelaskan ‘undecidability’ yang merupakan salah satu pemahaman kunci dalam filsafatnya. Kata pharmakon memiliki jangkauan makna yang luas mulai dari ‘racun’ sampai pada ‘pulih’ atau ‘sembuh’. Pengertiannya sebagai racun atau obat ditentukan oleh konteks dan intensinya. Kontekstualitas dan intensionalitaslah yang menentukan makna kata tersebut.

Memang, pada dasarnya obat adalah racun. Namun bila racun tersebut diberikan pada kondisi yang tepat dan dalam dosis yang tepat ia dapat berfungsi untuk menyembuhkan mereka yang sakit. Racun berubah menjadi obat. Sebaliknya, obat sekalipun, bila diberikan kepada mereka yang tidak tepat lebih-lebih dalam dosis yang tidak tepat, ia dapat berubah menjadi racun yang mematikan.

Baik racun maupun obat keduanya masuk dalam lingkup ‘pharmakon’. Namun statusnya lebih lanjut sebagai obat atau racun sangat ditentukan oleh diagnosa dan tindakan yang dilakukan. Bila diagnosa dan tindakannya tepat, ia akan menjadi obat. Sebaliknya, bila keliru ia menjadi racun. Ketepatan diagnosa dan tindakan adalah kunci.

Bagi saya, konsep ‘pharmakon’ berlaku juga untuk bidang filsafat, agama/ideologi, dan sains. Filsafat, agama/ideologi, dan sains tidak serta-merta di dalam dirinya merupakan ‘obat’ atau ‘racun’. Filsafat dalam kondisi tertentu bisa merupakan ‘racun’ namun dalam kondisi yang lain ia bisa menjadi ‘obat’. Status ‘obat’ atau ‘racun’ ditentukan oleh diagnosa dan tindakan yang dilakukan. Bila diagnosa dan tindakan terhadap situasi oleh filsafat tepat, maka filsafat merupakan obat. Sebaliknya jika keliru, maka filsafat adalah racun. Begitu pula halnya untuk agama/ideologi (bagi saya keduanya adalah ‘belief system‘) dan sains (‘knowledge system‘).

Bagaimana status sains? Apakah sains merupakan ‘racun’ atau ‘obat’? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama yang perlu dilakukan adalah melakukan diagnosis terhadap situasi yang dihadapi. Konteksnya situasi di mana? Untuk hal ini saya batasi untuk konteks Indonesia saja (tempat yang berbeda akan memberikan situasi yang berbeda, Indonesia tentu berbeda dengan Eropa Barat atau Amerika Utara). Setelah hal ini jelas barulah kita mulai melakukan diagnosis.

Diagnosis terhadap situasi dan kondisi masyarakat Indonesia tentu telah banyak dilakukan. Dari sekian banyak itu, saya memilih diagnosis yang dilakukan oleh Tan Malaka sebagai titik tolak. Tan Malaka menuangkannya dalam teks “Madilog”. Ia mendiagnosis alam berpikir masyarakat Indonesia pada saat itu (awal abad XX). Bagi dia kebanyakan alam berpikir masyarakat Indonesia masih mengedepankan irasionalitas.

Jika masalahnya adalah alam berpikir yang mengedepankan irasionalitas, maka jawaban atas masalah ini adalah suatu alam berpikir yang mengedepankan rasionalitas. Model berpikir yang mengedepankan rasionalitas ini salah satunya ada pada sains. Singkatnya, jika kita didiagnosa menderita sindrom irasionalitas, maka obat yang ditawarkan adalah cara berpikir saintifik. Dalam konteks ini sains adalah obat.

Sebagai orang yang hidup satu abad setelah Tan Malaka, saya berharap diagnosa yang dilakukan oleh Tan Malaka tersebut tidak lagi relevan di masa sekarang. Namun yang membuat saya sedih adalah kita belum beranjak dari sana. Situasi yang berlangsung belakangan ini justru semakin menegaskan diagnosa lama tadi. Ironisnya, teknologi yang berkembang pesat justru membuat intensitas irasionalitas meluas sedemikian massifnya.

Masyarakat yang irasional rentan terhadap berita-berita bohong karena hanya sikap kritis rasional sajalah yang mampu menyaring beragam informasi yang beredar. Teknologi justru memperkuat sikap anti-sains. Teknologi tinggi yang tidak disertai dengan sikap rasional akan memberikan daya rusak yang luar biasa. Atas dasar ini semua, saya melihat sikap kritis-rasional yang terdapat pada sains (dan filsafat) merupakan obat atas penyakit irasionalitas kronis yang tengah kita derita saat ini.

Sains adalah ‘pharmakon’ yang dalam konteks masyarakat Indonesia sekarang ia adalah ‘obat’. Namun statusnya sebagai ‘obat’ sangat kontekstual. Jika keadaan berubah statusnya bisa berubah pula. Saran yang relevan untuk saat ini adalah menambah dosis sains dan mengurangi dosis agama.

Apakah saya memiliki perspektif negatif terhadap agama? Sama sekali tidak. Saya berpendapat bahwa hidup adalah penderitaan dan semua orang yang menjalani hidup ada dalam kondisi sakit. Dalam kondisi sakit, orang membutuhkan ‘obat’. Agama adalah ‘obat’ bagi mereka yang menjalani hidup.

Tidak terbayang bagaimana menderitanya orang hidup tanpa agama sebagaimana orang sakit tanpa bantuan obat-obatan. Dalam konteks ini agama juga adalah pharmakon. Namun, sebagai ‘obat’, agama membutuhkan dosis yang tepat. Dosis yang berlebihan tidak akan membuat kondisi lebih baik. Itulah sebabnya, untuk sesuatu yang berlebih kita perlu mengurangi dosisnya hingga proporsional. Sebaliknya, untuk dosis yang kurang, kita perlu menambahnya hingga titik optimal.

Sumber ilustrasi: fineartamerica.com

About Novian Widiadharma

Dosen Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

View all posts by Novian Widiadharma →

40 Comments on “Sains Sebagai Pharmakon”

  1. I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *