Normal People by Sally Rooney; Tentang Bagaimana Struktur “Kelas” Membentuk Konflik Anak Muda

Sumber : Foto Pribadi

Apa yang bisa kamu bayangkan mengenai Manusia Normal? Jawabannya pasti bias dengan banyak latar belakang; baik itu ekonomi, sosial, dan budaya. Bahkan dalam kondisi yang tampak baik-baik saja pun terjadi kerapuhan jika kita benar-benar membedah dan mengakuinya karena, walau bagaimana pun, setiap manusia tumbuh dengan kompleksitasnya masing-masing. Barangkali itulah maksud dari Manusia Normal yang diceritakan dalam buku ini. Perbedaan latar belakang(terutama ekonomi) itulah yang menjadi poin utama. Perbedaan itu, dalam kaca mata Marxian, disebut dengan istilah “kelas”.

Konflik kelas inilah yang ingin ditekankan oleh Sally Rooney sebagai seorang Marxist. Dalam wawancaranya di London Review Bookshop bersama Kishani Widyaratna, Sally Rooney mengatakan,

“Sebagai seorang Marxist, saya pikir kelas adalah semacam prinsip penataan kehidupan sosial kita. Jadi, ketika datang untuk menulis novel, tentu saja saya harus memperhatikan cara kelas menyusun kehidupan sosial.‎”

Sally Rooney, “Sally Rooney talks to Kishani Widyaratna about ‘Normal People'”

Jika dalam teori Marx hubungan antar kelas itu adalah kelas penindas dan kelas yang ditindas, di sini konflik itu lebih berupa miss-komunikasi, beban psikologi, dan keterasingan dalam lingkungan.

Buku ini bercerita mengenai hubungan rahasia antara dua remaja dengan latar belakang yang berbeda, yaitu hubungan antara Connell, pria populer di sekolah yang berada di lingkungan kelas pekerja, dan Marianne, anak orang kaya di lingkungan tersebut. Mereka berdua menjalin hubungan rahasia di antara teman-teman di sekolahnya. Di sisi lain Connell harus bisa menerima fakta bahwa ibunya bekerja sebagai tukang bersih-bersih di rumah Marianne.

Sebagai anak orang kaya yang berada di lingkungan kelas pekerja, Marianne cukup terasing dengan lingkungannya. Dia bahkan dikenal oleh orang di sekitarnya sebagai pecundang yang tak punya teman. Keadaan itu juga yang membuatnya memilih merahasiakan hubungannya dengan Connell.

Namun keadaan berbalik ketika mereka berdua kuliah di Trinity, sebuah kampus bergengsi yang didominasi oleh anak-anak orang kaya. Marianne menjadi pribadi baru yang cukup mudah bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, sedangkan Connell kehilangan hal-hal yang dia dapatkan di sekolahnya dulu. Dari situlah kisah mereka menjadi cukup kompleks, termasuk persoalan kelas yang kemudian disadari oleh Connell.

Kesadaran itu tampak ketika ibu Connell bertanya tentang masa depan hubungannya dengan Marianne. Connell dengan santai menjawab, “Sepertinya keluarganya tidak sederajat dengan kita”. Masalah kelas itu pula yang membuat mereka berdua tidak bisa saling memahami dan mengalami miss-komunikasi. Saat Connell bercerita pada Marianne bahwa dia tidak memiliki uang untuk membayar kamar sewa dengan maksud ingin menumpang di tempat Marianne. Tapi Marianne malah menganggap bahwa Connell ingin pulang ke rumah ibunya.

Connell berusaha untuk mendapatkan Beasiswa untuk bisa membiayai kuliahnya, sedangkan Marianne mendapatkannya hanya untuk memenuhi harga dirinya. Saat acara makan untuk para penerima beasiswa, Connell bisa berempati pada mereka yang bekerja sebagai pelayan untuk membiayai kuliah mereka, sedangkan Marianne tampak tidak bisa menangkap hal itu.

Dalam perjalanan cerita ini, kedua tokoh tersebut juga mengalami konflik psikologis dengan diri mereka masing-masing. Maka bagi saya istilah “Manusia Normal” dalam buku ini lebih sebagai sikap dan pembawaan diri setiap tokoh dalam berkomunikasi dengan kelas yang berbeda. Novel ini juga menyinggung beberapa hal sensitif, seperti perang Israel-Palestina, kondisi politik di Irlandia, dan juga sikap Rasis kepada orang-orang Asia yang berlibur ke Eropa.

Di belakang cover buku ini, terdapat komentar dari The Guardian, “Novel ini akan menjadi sebuah cerita klasik”. Setelah membacanya, yang bisa saya tangkap dari istilah klasik di sini adalah tentang alur dan juga latarnya. Sedang dalam konflik dan juga pola interaksinya, novel ini sudah terasa modern, atau bahkan terasa millennial. Sebab alurnya sudah melibatkan berbagai mesin digital di zaman ini.

About Muhammad Arwani

Hanya Manusia Biasa yang Sering Khilaf

View all posts by Muhammad Arwani →

One Comment on “Normal People by Sally Rooney; Tentang Bagaimana Struktur “Kelas” Membentuk Konflik Anak Muda”

  1. Wow, superb blog structure! How lengthy have you
    been running a blog for? you made blogging glance easy.
    The whole glance of your website is magnificent, as smartly as the content
    material! You can see similar here najlepszy sklep

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *