Nietzsche: Perihal Ubermensch

Friedrich Nietzsche merupakan tokoh yang sangat kontroversial di abad ke-19 karena statementnya yang mengatakan bahwa Tuhan telah mati. Nama lengkapnya adalah Friedrich Wilhelm Nietzsche yang dilahirkan di kota Saxony, Prusia, pada 15 Oktober 1844 dan tutup usia pada 25 Agustus 1900. Selain filsafat, Nietzsche meminati beberapa bidang lainnya seperti filologi, sastra, dan seni musik. Sebagai filsuf yang produktif, Nietzsche banyak melahirkan karya di antaranya; Die Geburt det Tragodie, Menschilches Allzumenschliches, Morgenrothe, Also Sparch Zarahustra, Der Fall Wagner, dan lain sebagainya.

Pemikiran Nietzsche hampir semuanya bercorak antroposentris di mana hal tersebut dapat dilihat dalam gagasannya tentang Ubermensch. Gagsan tentang Ubermensch dilatarbelakangi oleh situasi yang dihadapi Nietzsche pada masanya, yaitu dekadensi orang-orang Prusia (Jerman) akibat dominasi doktrin-doktrin gereja yang selalu memberi jaminan akan kehidupan yang lebih baik di kemudian hari. Ubermensch tentu tidak membutuhkan jaminan semacam itu. Gagasan Ubermensch sangat erat kaitannya dengan statementnya tentang kematian Tuhan. Pada umunya dapat dikatakan bahwa Nietzsche menjabarkan gagasan Ubermensch dalam konteks ateismenya.

Bagi Nietzsche, Ubermensch adalah tujuan manusia dan, pada saat yang sama, manusia adalah jembatan bagi dirinya sendiri untuk mencapai Ubermensch. Nietzsche menginginkan agar manusia bisa menjadi manusia yang bebas dalam berkehendak; tidak diatur oleh dogma agama atau pun negara. Singkatnya, Nietzsche memproyeksikan Ubermensch sebagai manusia masa depan.

Dalam Zarathustra Nietzsche mengatakan, “Lihatlah, aku mengajarkan Ubermensch kepadamu! Ubermensch adalah makna dunia ini. Biarkanlah kehendakmu berseru: hendaknya Ubermensch menjadi makna dunia ini. Aku mengingatkan kepadamu, saudara-saudaraku. Tetaplah percaya pada dunia dan jangan percaya pada mereka. Yang berbicara kepadamu tentang harapan-harapan di balik dunia. Mereka ini adalah para pengracun, entah mereka tahu atau tidak” (Nietzche, 2011: 273).

Melalui gubahan di atas, kita dapat melihat bahwa Nietzsche menginginkan manusia modern tetap percaya akan dirinya sendiri tanpa mempedulikan dogma yang diajarkan oleh agama. Melalui gubahan itu pula, kita diberitahu bahwa Nietzsche sedang menghujat Tuhan mengingat Tuhan sendiri diklaim telah menurunkan agama. Memang, kata Nietzsche, dulu menghujat Tuhan adalah hujatan yang paling keji, tetapi kini Tuhan telah mati demikian para penghujatnya. Bagi Nietzsche, hujatan paling keji saat ini adalah hujatan atas dunia dan kehidupan (Sunardi, 1999: 148).

Untuk menggugah semangat, Nietzsche berkhutbah dengan filsafatnya dan menekankan agar setiap orang mencintai kehidupan karena hidup adalah kenyataan, bukan ilusi. Hanya dengan mencintai kehidupanlah orang akan optimis menjalaninya. Intinya, kehendak untuk hidup (will to life) adalah bagian paling penting dari Ubermensch.

Manusia harus turun ke dunia dan mengakui dunia serta dirinya sebagai sumber nilai. Berpalingnya manusia kepada Tuhan adalah ketidakberdayaan manusia sendiri menghadapi kenyataan hidupnya. Nietzsche menilai bahwa pesimisme terhadap hidup disebabkan oleh kerisauan akan dorongan hidup. Kerisauan ini muncul sebagai akibat ketidakberdayaan untuk menguasai dorongan hidup yang pada hakikatnya adalah hidup itu sendiri.

Sikap manusia yang dapat mengafirmasi hidupnya dapat diibaratkan seperti laut. Tanpa harus menjadi murni, laut bersedia menampung berbagai aliran sungai yang penuh dengan polusi. Sebelum orang dapat mengafirmasi segala dorongan hidupnya, tak mungkin Ubermensche tercipta.

Bagi Nietzsche, penolakan hidup terjadi bukan hanya karena orang berhadapan dengan penderitaan yang menakutkan. Penolakan juga dapat terjadi ketika orang merasakan kenikmatan hidup yang begitu dahsyat. Orang tidak berani mengakui bahwa dirinya adalah penyebab dari penderitaan dan kenikmatan hidup sehingga ia menciptakan penyebab palsu yang dianggapnya jauh lebih kuat ketimbang dirinya sendiri, yaitu yang illahi. Orang yang memaknai dunia lewat Ubermensch tidak gentar menghadapi berbagai dorongan hidupnya yang dahsyat. Dia tidak merasa asing dengan dorongan semacam ini. Dengan menjadi Ubermensch orang akan kerasan tinggal di dunia.

Nietzsche menginginkan agar manusia tidak bersandar pada Tuhan dalam menghadapi urusan-urusan dunia. Ini semua agar manusia bisa leluasa dalam menjalankan kehidupannya. Namun, apa yang dicita-citakan Nietzsche jauh dari kenyataan. Manusia modern seakan tidak bisa lepas dari Tuhan berikut dogma agamanya. Bahkan bisa dikatakan bahwa Ubermensch sendiri adalah semacam pengganti Tuhan yang telah mati. Hanya saja, Ubermensch adalah tujuan manusia di dunia ini yang diciptakan oleh manusia itu sendiri untuk menggantikan setiap tujuan yang ditentukan dari luar.

Melalui Ubermensch orang tidak perlu lagi menolak kehidupan dan berpaling pada sesuatu di seberang dunia. Ubermensch pada dasarnya adalah seruan untuk mengafirmasi hidup tanpa membiarkan sedikit sisa pun untuk ditolak. Afirmasi hidup ini secara kongkret terwujud dalam pengakuan akan segala macam dorongan, baik itu yang menakutkan maupun yang mempesona, yang oleh orang-orang dekaden dipersonifikasi sebagai Tuhan.

Sumber ilustrasi: msoundcloud.com

About Raha Bistara

Dosen UIN Raden Mas Said Surakarta

View all posts by Raha Bistara →

309 Comments on “Nietzsche: Perihal Ubermensch”

  1. Hello!

    This post was created with XRumer 23 StrongAI.

    Good luck 🙂

  2. Hello.

    This post was created with XRumer 23 StrongAI.

    Good luck 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *