Kolase Sastra Arab Perempuan

Abstract

The existence of literature throughout history has had a tremendous impact, especially for Arab women, because they do not just release imaginary ideas that spill into writing, film or whatever it is “tashawur” into the form of literary media. But how do they use literature to smuggle messages about women’s struggles in the Middle East. The researchers focused on the image of Arab women in three novels written by three Arab female novelists: Imra’a ‘inda Nuqthah al-Shifr by Nawal Al-Sa’daawi, Le printemps désespéré (Desperate Spring) by Fettouma Touati and Ahlam Al-Nisâ al-Harem by Fatima Mernissi.

The results of the researchers’ reading showed that through the three novels written by the three female characters, depicting women who experienced various problems such as violence, marginalizationto steriotype. This problem arises from the perpetuation of a patriarchal culture that ignores women’s potential and limits their movement. Furthermore, it would have taken Arab women a long time to spread to all corners of the world- if not for the struggle of their own efforts through writing and literature as a medium.

Therefore, researchers question: Does literature have a role in women’s lives? What is the role of literary works towards Arab women? And did Arab women’s literary works gain space for existence? This research is a literature research using a descriptive qualitative approach. It is hoped that this research can become a collage of Arab women’s literary works that examine the role of literary works for women’s struggles in the Middle East.
Kata kunci: Female image, Arab women, existence, women writers

PENDAHULUAN

Bangsa Arab merupakan salah satu bangsa yang mempunyai peradaban tertua di dunia. Dalam sejarahnya, kehidupan bangsa Arab sangat lekat dengan kegiatan kesusastraan. Dari kegiatan kesusastraan inilah lahir beragam produk sastra yang digunakan sebagai media untuk mengungkapkan perasaan serta imajinasi seorang penulis.

Pada masa jahiliah, karya sastra khususnya syi’ir selain dijadikan sebagai salah satu karya sastra, juga memuat catatan sejarah bangsa arab atau yang dikenal dengan istilah dîwan al-Arab. (Salâm, 1961, hlm. 193) Sehingga dapat dipahami bahwa peran sastra tidak hanya sebagai sarana untuk mengungkapkan emosi dan pikiran, tetapi juga sebagai catatan sejarah kehidupan bangsa Arab yang dikemas dengan bahasa yang sangat indah.

Pada masa jahiliah, kondisi sosial masyarakat dapat ditelaah melalui syair-syair yang tingkat keindahan bahasa yang tinggi. Tidak jarang ditemukan beberapa penyair yang menjadikan perempuan sebagai obyek karya dan memberikan stereotip buruk dalam syairnya terhadap perempuan. Hal ini berangkat dari kondisi masyarakat Arab pada saat itu yang memandang perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Suasana ini terus berlanjut hingga abad ke-19 M dengan diketahuinya lembaga bernama Hareem yang membatasi ruang gerak perempuan yang mana rumah-rumah diberi sekat untuk membatasi ruang antara laki-laki dan perempuan. Pada masa itu pula perempuan mengalami stagnansi – selain disebabkan karena dibatasi ruang gerak, juga tidak adanya akses untuk memperoleh pendidikan sebagaimana laki-laki.

Perempuan pada masa kini masih terus diasingkan dari dunia luar (Kader, 1987, hlm. 17). Dan ini berlarut-larut hingga ke abad 20 M, adanya pemberitaan di media massa terkait kekerasan serta pembatasan ruang gerak bagi perempuan di Timur Tengah, membuat beberapa aktivis perempuan -khususnya di Timur Tengah sendiri- semakin lantang mengecam segala bentuk kekerasan dan segala tindakan yang men-dehumanisasi perempuan.

Munculnya aktivis perempuan ini, pada mulanya ialah berawal dari gerakan perempuan Mesir sebagai partisipan revolusi Mesir pada tahun 1919. Adanya peran aktif perempuan serta sikap sikap kepatriotan perempuan pada masa itu, perlahan mengubah wajah perempuan yang sebelumnya dicitrakan sebagai manusia yang pasif, pemalu, serta tidak aktif dalam hal politik (Mooduto, 2018, hlm. 8).

Karya Sastra sebagai salah satu media untuk merepresentasikan kehidupan, memainkan perannya-dalam wilayah akademis khususnya- merupakan ranah yang memiliki daya tarik tersendiri untuk diteliti. Dalam hal ini, suatu cerita semisalnya novel yang ditulis oleh seorang pengarang sudah dapat dipastikan memberikan pesan-pesan tertentu kepada pembaca. Bahkan tidak hanya itu, realitas kehidupan pun turut disampaikan oleh pengarang melalui karya sastra, sehingga secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap pembaca.

Tidak jarang, pengarang yang menjadikan perempuan sebagai obyek sastra pada akhirnya menuai pro dan kontra dengan memposisikan perempuan ke berbagai dalam penceritaan karya sastra. Maka tidaklah mengherankan apabila pembahasan mengenai perempuan sebagai obyek sastra tidak ada habisnya. Hal ini dimanfaatkan oleh beberapa pengarang- khususnya penulis perempuan- untuk merekonstruksi ulang perempuan serta realitas kehidupannya ke dalam sebuah karya sastra.

Dengan adanya media seperti sastra, para aktivis perempuan di Timur Tengah seperti mendapatkan ruang dalam menyuarakan visi mereka untuk melindungi dan memperjuangkan hak-hak perempuan yang telah dirampas. Salah satunya media yang digunakan oleh aktivis perempuan di Timur Tengah dalam menyampaikan visi mereka ialah melalui karya sastra, dalam hal ini novel. Chandra Talpade Mohanty menyatakan bahwa karya sastra pada masa pasca kolonial merupakan suatu bentuk perlawanan baru (Moore, 2008, hlm. 7).

Bagi para aktivis perempuan Arab, karya sastra digunakan sebagai media kritis untuk menyuarakan visi mereka dengan menggunakan teknik penceritaan yang khas. Hal ini juga memberikan sumbangsih terhadap kebaruan tema-tema karya sastra, yang semula sastra Arab hanya berkaitan dengan tema-tema agama, politik, dan juga masyarakat (Bachmid, 2010, hlm. 3).

Hasil penciptaan karya sastra oleh perempuan ini tidak hanya dikhususkan untuk kalangan perempuan saja, tetapi juga ditujukan untuk laki-laki. Hal ini bertujuan untuk terciptanya dunia baru yang lebih baik, yakni dunia yang mengutamakan relasi yang seimbang antara laki-laki dan perempuan. Diantara penulis perempuan Arab yang senantiasa memperjuangkan hak-hak perempuan dalam karyanya yaitu Asia Jabbar, Nawal al-Sa’daawi, Fatima Mernissi, Fadia Faqir, Fettouma Touati, dan lain-lain.

Dari latar belakang di atas, penelitian ini akan membahas: (1) bagaimana perempuan Timur Tengah digambarkan melalui novel yang ditulis oleh penulis perempuan Arab; (2) bagaimana eksistensi penulis perempuan Arab dalam memperjuangkan suara mereka untuk dalam membela hak perempuan.

Adapun penelitian terdahulu yang pernah dilakukan terkait penelitian perempuan Arab yakni penelitian yang dilakukan oleh Dzulkifli M. Mooduto, dengan judul “Peran Perempuan Mesir dalam Konstruk Sosial Pascakolonial”. Artikel tahun 2018 ini membahas tentang peran perempuan Mesir dalam berbagai bidang kehidupan bernegara, yang mana peran tersebut dimulai dari masa kolonial yang lekat dengan budaya perbudakan serta pergundikan yang pada akhirnya perempuan Mesir dapat melakukan perlawanan. Pada fase selanjutnya yakni fase neo-kolonial perempuan Mesir melanjutkan ranah perjuangannya di kanca perpolitikan, hingga pada masa pasca kolonial perempuan Mesir mampu berperan besar dalam kolektivitas etnik.

Dengan demikian, penelitian ini dinilai berbeda dan memiliki kebaruan. Penelitian ini akan membahas bagaimana perempuan Timur Tengah direpresentasikan oleh penulis perempuan Arab serta bagaimana eksistensi dari penulis perempuan di Timur Tengah dalam menggagas visi mereka untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan di Timur Tengah.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini ialah penelitian kualitatif deskriptif. Moleong berpendapat bahwa, maka penelitian jenis ini merupakan serangkaian dari proses pengumpulan data, mengolah, dan kemudian menganalisa suatu peristiwa sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (L. J. Moleong, 2002, hlm. 3). Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa penelitian kualitatif deskriptif merupakan suatu proses penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata tertulis atau lisan dari suatu pengamatan (L. ; M. Moleong, 2017, hlm. 4).

Penelitian ini juga menggunakan studi kepustakaan, dengan cara mengumpulkan data melalui dokumen, baik itu tertulis dan dokumen elektronik, untuk mendukung proses penelitian. Sedangkan teknik yang digunakan penelitian ini ialah adalah teknik baca dan catat, yaitu dengan membaca langsung dari sumber terkait yang, kemudian data yang didapatkan akan diolah, disusun, dan dianalisis dengan data terkait perempuan Arab dalam sastra pos kolonial.

PEMBAHASAN

Perempuan Timur Tengah dalam karya sastra Arab
Membicarakan perempuan -muslim- di timur tengah, tidak terlepas dari diskriminasi yang dialami oleh perempuan. Hussen Muhammad menyatakan bahwa diskriminasi yang dialami oleh perempuan di negara muslim masih cukup massif dan kuat (Hearty, 2015, hlm. xiii). Hal ini membuat beberapa aktivis perempuan mengambil peran untuk terus melawan tindakan tersebut serta menyuarakan hak-hak perempuan di timur tengah. Tak terkecuali penulis perempuan yang juga turut andil mengecam segala tindakan yang mendiskriminasikan perempuan melalui karya sastra yakni novel.

Dipilihnya sastra sebagai media untuk menyuarakan aspirasi dikarenakan kesusasteraan merupakan proses komunikasi. Terkait hal ini, Nyoman berpendapat bahwa fungsi sastra sebagai sebuah sistem komunikasi merupakan ciri karya sastra yang sangat penting (Ratna, 2021, hlm. 297). Karya sastra diproduksi melalui imajinasi dan daya kreatifitas seorang penulis, yang mana karya sastra juga mempunyai tujuan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, yang dalam hal ini sastra sebagai komunikasi.
Akan tetapi komunikasi sastra tidaklah sesederhana seperti komunikasi kehidupan sehari hari.

Sagers menyebutkan bahwa komunikasi sastra jauh lebih rumit dibandingkan komunikasi mesin (Ratna, 2021). Adanya kerumitan komunikasi sastra disebabkan karena karya sastra menggunakan bahasa yang secara artifisial telah dimodifikasi, yang mana bahasa pada karya sastra yang tidak sama dengan bahasa sehari-hari.

Hellwig dalam Latief menambahkan bahwa adanya proses komunikasi dalam kesusastraan -terjalin antara pengarang, karya, pembaca, dan semesta- dianggap sebagai komunikasi paling ruwet (Latief, 2005, hlm. 47). Semesta kenyataan inilah dianggap paling ruwet diantara jalinan komunikasi kesusasteraan, bahwa baik pengarang ataupun pembaca hidup pada suatu kenyataan sosial tertentu yang berbeda satu sama lain. Begitu pula dengan teks yang mengungkapkan realitas, akan tetapi realitas teks dengan kenyataan kehidupan pembaca ataupun pengarang tentu berbeda.

Diantara karya sastra dalam bentuk novel yang ditulis oleh penulis perempuan Arab adalah sebagai berikut:

Imra’a ‘inda Nuqthah al-Shifr Karya Nawal Al-Sa’daawi

Seperti sebuah novel yang berjudul Imra’a ‘inda Nuqthah al-Shifr yang terbit pada tahun 1975 ditulis oleh Nawal Al-Sa’daawi, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa inggris dengan judul Woman at Point Zero pada tahun 1990, novel ini menggunakan teknik penceritaan orang pertama, dengan tokoh seorang perempuan bernama Firdaus. Firdaus mengisahkan kehidupannya sejak kecil yang keras di sebuah pedesaan. Ia juga yang mengalami perjodohan yang gagal, berujung pada penyiksaan hingga berkarir sebagai pelacur (Moore, 2008, hlm. 19).

Firdaus selalu mendapatkan penyiksaan dan tindakan kekerasan seksual baik di rumah keluarganya maupun di ruang publik. Djebar berpendapat bahwa Firdaus secara harfiah menjadi seorang pelacur, ironisnya mencontohkan sikap yang melekat pada semua perempuan yang ‘melampaui’ ruang publik (Moore, 2008). Oleh karena itu, plot pada novel ini menggabungkan perpindahan tempat dan pemukiman sementara. Sebab Firdaus dikisahkan sebagai tokoh perempuan yang terus berpindah ke satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari perlindungan diri. Hal ini menandakan bahwa Firdaus sebagai seorang perempuan tidak mendapatkan tempat yang aman bagi dirinya, baik di dalam rumah ataupun di ranah publik.

Karir Firdaus sebagai pelacur kelas atas merupakan fase yang paling memberdayakan dalam hidupnya, karena memberikan kebebasan ekonomi khususnya, sehingga ia dapat membangun rumah sebagai ruang pribadinya sendiri. Meskipun ‘rumah’ pada akhirnya menjadi ‘penjara’ ketika Firdaus membunuh seorang klien. Tindakan radikal yang dilakukan oleh Firdaus merupakan suatu tindakan yang secara setengah sadar membalas dendam atas pelecehan oleh laki-laki sepanjang hidupnya. Tindakan kekerasan ini dan penahanan serta eksekusi yang diakibatkan oleh Firdaus seolah-olah menandai batas kemampuan perempuan untuk menggunakan hak pilihan di pinggiran kehidupan sosial.

Suara Firdaus merupakan suatu permintaan terakhir dari seorang perempuan yang sedang berada diambang vonis kematian. Visi dan suara di sini, menjadi wahana potensi kolaborasi antara dua perempuan yang berhadapan langsung. Meskipun demikian, sang narator yang mentransmisikan kisah Firdaus ini tidak bisa sepenuhnya memahami seorang perempuan menghadapi laki-laki sendirian. Malti-Douglas berpendapat bahwa perempuan dalam konstruksi sastra feminis Nawal Al-Sa’daawi digambarkan sebagai perempuan yang melawan budaya patriarki akan tetapi perlawanan yang dilakukan jarang dimenangkannya (Moore, 2008).

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa perempuan dalam karya nawal Al-Sa’dawi digambarkan sebagai perempuan yang terus melawan berbagai bentuk ketertindasan di tengah budaya patriarki yang mapan, meskipun perjuangan tersebut tidak dapat dimenangkan oleh perempuan seutuhnya.

Le printemps désespéré (Desperate Spring) Karya Fettouma Touati

Di Aljazair sendiri kita dapat melihat bagaimana perempuan Aljazair direpresentasikan dalam sebuah karya sastra yang ditulis oleh Fettouma Touati dalam bahasa prancis yang berjudul Le printemps désespéré (Desperate Spring) pada tahun 1984.

Novel ini menceritakan tentang kehidupan kehidupan tiga generasi wanita Aljazair yang menghadapi rasisme dan seksisme yang berulang (Killam & Rowe, 2000, hlm. 97). Moore menambahkan bahwa novel ini juga menceritakan perihal kekerasan dalam rumah tangga, pengucilan sosial, persekusi, dan dampak psikologis yang diderita oleh tiga generasi perempuan dengan latar waktu tahun 1960-an sampai 1980-an (Moore, 2008, hlm. 49).

Novel ini disusun berdasarkan pengalaman perempuan yang terkait dengan hubungan kekerabatan secara horizontal dan juga vertikal dalam segi waktu. Cerita bermula dari Sekoura dan Abdel kader, kakek-nenek dari generasi perempuan yang menanggung derita selama pemerintahan kolonial, pemiskinan, kepergian salah satu putra ke Prancis, serta psikotik akibat penyiksaan selama perang. Dalam novel ini kakek-nenek ditampilkan sebagai sosok yang mengalami kesia-siaan, kepahitan, dan kehinaan.

Mereka mendukung gagasan pendidikan perempuan, karena di Aljazair yang telah merdeka sekalipun tidak ada perlindungan hukum ataupun ekonomi untuk perempuan janda atau bercerai. Ironisnya, pada generasi perempuan berikutnya juga melanggengkan tradisi patriarki yang membuat hampir tidak mungkin bagi perempuan untuk menjalani kehidupan yang mandiri.

Hingga pada generasi ketiga pun, para perempuan yang disajikan sebagian besar di usia remaja dan dua puluhan, dihadapkan pada pilihan yang sangat terbatas. Dalam kasus yang paling ekstrem, Fatiha satu-satunya tokoh perempuan yang menentang masyarakat dan memberontak secara terbuka. Dalam setiap kasus, perempuan terpapar gosip dan ancaman kekerasan oleh suami dan saudara laki-laki. Leïla misalnya, menjadi objek tuduhan bahwa dia hamil dan dipenjara serta dipukuli oleh saudara laki-lakinya.

Moore berpendapat bahwa adanya dominasi perspektif tersirat dari penulis cenderung menghalangi pengembangan karakter, hal inilah yang menunjukkan keterbatasan novel ini meskipun kesimpulan novel ini agak didaktis. Akan tetapi hal yang menarik ialah dalam penataannya yang ambisius dalam tindakan perlawanan terhadap dominasi dan diskursus patriarkal dalam ruang sosial Aljazair, yang terjalin suara perempuan baik secara sinkronis dan juga diakronis (Moore, 2008, hlm. 51).

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Charrad bahwa perempuan Aljazair pasca kolonial tetap terkunci dalam konsepsi pribadi dan publik tentang tubuh perempuan yang masih mendefinisikannya sebagai tempat penyimpanan simbolis kehormatan berbasis kerabat (Moore, 2008). Dengan demikian melalui novel ini dapat dipahami bahwa perempuan Aljazair meskipun telah merdeka dari penjajahan kolonial tetap mengalami keterjajahan baik di wilayah domestik maupun ranah publik.

Oleh karena itu Fettouma Touati terus menyuarakan keadilan bagi perempuan Aljazair yang dikungkung oleh budaya patriarki melalui karya sastranya. Hal ini merupakan upaya perlawanan dari perempuan yang dilakukan untuk menentang segala bentuk upaya yang merampas hak-hak perempuan.

Ahlam Al-Nisâ al-Harem Karya Fatima Mernissi

Selanjutnya yakni sebuah karya dari Fatima Mernissi yang berjudul The Harem Within: Tales of a Moroccan Girlhood (1994), berlatarkan Harem kelas menengah atas di Fez pada tahun 1940-an, dengan latar belakang perjuangan kemerdekaan Maroko. Teks versi bahasa Inggris pertama kali diterbitkan di Inggris, dan diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan judul Ahlam Al-Nisâ al-Harem (1998).

Novel ini menceritakan tentang kehidupan para wanita yang terkunci di balik dinding Harem, atau dinding pembatas bagi wanita di Fez, Maroko. Novel otobiografi karya Fatima Mernissi ini menceritakan pengalamannya dan kehidupan kerabatnya, yang selama bertahun-tahun dibatasi oleh tradisi yang menghalangi mereka untuk mengekspresikan diri dan melihat dunia luar yang lebih indah.

Dikisahkan bahwa di dalam tembok itu Fatima Mernissi memiliki sepupu laki-laki dan sekaligus menjadi teman di dalam Harem, yang bernama Shamir. Saat mereka masih kecil, Fatima dan Shamir penasaran dengan hal-hal yang tidak biasa dan ingin tahu tentang apa yang ada dibalik tembok Harem yang memisahkan mereka dari dunia luar. Karena penasaran, Fatima kecil terus mempertanyakan dan mengkritik budayanya di balik tembok Harem, yang menurutnya tidak sesuai dengan prinsip Islam.

Harem di Fez Maroko dipenuh dengan keluarga dari berbagai kalangan dari yang muda hingga tua berkumpul dan berinteraksi dalam satu tempat. Perempuan Harem tidak dibiarkan pergi tanpa alasan yang jelas dan tanpa muhrim. Bahkan di rumah ini, perempuan terbagi menjadi dua kelompok, ada kelompok konservatif yang ingin melestarikan budaya Arab dan kelompok revolusioner yang ingin mengubah budaya yang dirasa tidak berarti, tidak bebas dan penuh dengan patriarkal.

Kelompok konservatif didukung oleh ayah Fatima, paman, bibi dari pihak ayah, dan nenek dari pihak ayah, yang bersikeras pada aturan dan menetapkan Batasan. Sedangkan Kelompok revolusioner ini diduduki oleh Laila Mani (nenek Fatima) dan Ibunda Chama yang memberontak terhadap apa yang mereka anggap sebagai batas ruang yang sewenang-wenang. Kelompok ini mendambakan kehidupan layaknya perempuan biasa yang bisa bergerak bebas kemana saja, tidak dibatasi tembok, dan bisa bersekolah. Meski demikian berbeda kedua kelompok ini dapat hidup berdampingan.

Mernissi kecil sering bertanya-tanya kepada saudarinya yang lebih tua atau kepada Ibu dan Neneknya yang menurut Fatima sendiri sangat pintar dan banyak pengalaman. Karena kepolosan anak-anak, mereka sangat ingin tahu apa itu Harem. Ini adalah cara paling objektif yang dipilih Mernissi untuk dipertanyakan kembali, mendefinisikan Harem langsung dari sejarah, yang telah salah didefinisikan oleh orang Barat.

Orang Barat banyak menggambarkan Harem sebagai tempat yang digunakan oleh seorang lelaki kaya dan berkuasa untuk menyimpan banyak istri ataupun budak perempuan yang berpenampilan sensual dan dijaga oleh beberapa pengawal. Moor menambahkan bahwa Fatimah banyak memberi pemaknaan ulang mengenai Harem, bahwa ruang Harem yang dimaksud ialah sebuah ruang yang diatur oleh qawâ id yang menghilangkan otonomi dan pilihan perempuan (Moore, 2008, hlm. 119).

Fatima Mernissi kecil tidak pernah mengenal kekerasan, tetapi budaya patriarki yang dialaminya setiap hari secara tidak di dalam Harem. Seperti yang ia alami ketika belajar al-Qur’an , gurunya mengatakan bahwa dia tidak akan ditanya mengenai pendapatnya selama belajar. Fatima Mernissi tumbuh dalam keluarga Harem yang secara ketat mengikuti tradisi dan mematuhi hudud yang diterapkan pada wanita di Harem.
Dengan demikian, dapat di pahami bahwa novel The Harem Within: Tales of a Moroccan Girlhood menggambarkan bagaimana perempuan Harem yang mengalami keterbatasan pilihan, serta ketimpangan hak dan kewajiban. Novel ini juga menjadi media bagi penulis untuk merekonstruksi pemahaman mengenai Harem dari sudut pandang perempuan Maroko yang hidup di dalam Harem sendiri.

Melalui ketiga novel yang ditulis oleh perempuan di atas, dapat dilihat bagaimana perempuan muslim Arab digambarkan sebagai perempuan yang mengalami berbagai persoalan seperti kekerasan, marginalisasi hingga stereotip.

Persoalan tersebut muncul akibat langgengnya budaya patriarkal yang mengabaikan potensi perempuan. Hal ini memicu berbagai perlawanan yang dilakukan oleh tokoh yang dikisahkan, meskipun pada akhirnya perlawanan tersebut tidak dapat mendobrak budaya patriarkal yang mapan di masyarakat.

Seperti novel nawal Al-Sa’dawi yang berjudul Imra’a ‘inda Nuqthah al-Shifr menggambarkan perjuangan seorang perempuan untuk melawan bentuk penindasan terhadap perempuan di tengah budaya patriarki yang mapan, meskipun perlawanan yang dilakukan tidak dapat dimenangkan seutuhnya. Demikian Fettouma Touati yang turut menyuarakan keadilan bagi perempuan Aljazair melalui karya sastranya yang berjudul Le printemps désespéré (Desperate Spring).

Hal yang sama dilakukan oleh Fatima Mernissi melalui karyanya yang berjudul Ahlam Al-Nisâ al-Harem yang turut mengkritik dan merekonstruksi ulang pemaknaan Harem yang selama ini mendapat pemaknaan yang negatif dari Barat. Ia juga menggambarkan bagaimana perempuan Harem mengalami keterbatasan pilihan, serta ketimpangan hak dan kewajiban.

Dengan demikian dapat dipahami bahwasanya ketiga penulis perempuan ini menjadikan karya sastra sebagai media untuk menyuarakan visi mereka dalam menyampaikan kritik dan membela hak-hak perempuan yang dirampas.

Eksistensi Penulis Perempuan Arab

Keberadaan karya sastra yang ditulis oleh para penulis perempuan, tentunya membawa masa depan yang cerah bagi eksistensi perempuan di Timur Tengah. Tidak dapat dipungkiri bahwa karya sastra yang ditulis oleh perempuan Arab mengangkat isu-isu gender dengan melibatkan kompleksitas antara agama, kelas, etnis, seksualitas, dan kekerasan yang tidak hanya patriarkal, tetapi juga kolonialis, Zionis, dan sektarian (Moore, 2008, hlm. 4).

Adanya peran penerjemahan juga mempengaruhi suatu karya sastra dikenal tidak hanya di wilayah asal penulis saja, tetapi dapat dibaca oleh berbagai pembaca di berbagai negara. Tak mengherankan bila karya sastra yang ditulis oleh perempuan terutama Djebar, Nawal Al-Sa’daawi, dan Fatimah Mernissi dikelompokkan sebagai sastra kanon yang dapat menutup eksistensi penulis lain, termasuk penulis laki-laki.

Uniknya ialah setiap karya sastra yang ditulis -dalam hal ini novel- menjadi media ekspresi kritis bagi perempuan Arab. Meski demikian, banyak sekali kendala yang dihadapi oleh penulis perempuan dalam menggaungkan aksi mereka dalam karya sastra. Moore mengatakan bahwa para penulis perempuan telah mengalami kendala dan bentuk kekerasan sebagai perempuan dan juga seniman, termasuk penyensoran, pemenjaraan, ancaman pembunuhan, terjemahan terbatas, dan kritik reduktif baik di dalam maupun di luar dunia Muslim Arab (Moore, 2008).

Seperti yang dihadapi oleh Nawal Al-Sa’daawi, yang paling lantang menyuarakan pengalaman perempuan Muslim Arab kepada Barat sejak terjemahan tahun 1980 dari The Hidden Face of Eve, pertama kali diterbitkan sebagai Al Wajh al Ari lil Mara al Arabiyya (1977). Dia dipenjara pada awal 1980-an, Asosiasi Solidaritas Wanita Arabnya ditutup oleh negara pada 1991, dan dia menerima ancaman pembunuhan dari kelompok Islamis. Tidak hanya itu, karya nawal juga dilarang terbit hingga ia diusir dan hidup di pengasingan semi permanen di Amerika Serikat.

KESIMPULAN

Bangsa Arab merupakan salah satu bangsa yang mempunyai peradaban tertua di dunia. Untuk mengetahui kondisi sosial masyarakat dapat diketahui melalui syair-syair yang memiliki tingkat keindahan bahasa yang cukup tinggi. Tak jarang ditemukan beberapa penyair yang menjadikan perempuan sebagai obyek karya dan memberikan stereotip buruk dalam syairnya. Hal ini juga berangkat dari kondisi masyarakat Arab pada saat itu yang memandang perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Keadaan tersebut terus dirasakan hingga sekarang, dimana perempuan terus mendapatkan stereotip yang buruk serta permasalahan lainnya. Hal ini memicu perlawanan dari kalangan perempuan untuk melawan segala bentuk yang menindas hak-hak perempuan serta mengecam berbagai upaya yang mengabaikan potensi perempuan. Salah satu upaya perlawanan tersebut dilakukan oleh penulis perempuan. Melalui karya sastra, para penulis perempuan di Timur tengah terus mengkritik dan menyuarakan keadilan bagi perempuan yang telah direnggut segala haknya perempuan.

Namun upaya tersebut tidaklah semudah yang dibayangkan, dalam melakukan upaya tersebut para penulis perempuan mendapatkan berbagai rintangan seperti ancaman pembunuhan, karya dilarang terbit, penyensoran, keterbatasan penerjemahan, penjarahan, hingga ancaman pembunuhan. Meskipun demikian, hal ini tidak menyurutkan perjuangan para penulis perempuan ini dalam menyuarakan hak-hak perempuan. Adanya penerjemahan karya dalam bahasa lain turut membantu tersebarnya karya penulis ini di berbagai negara.

DAFTAR PUSTAKA

Bachmid, A. (2010). Telaah kritis terhadap karakteristik sastra arab masa jahiliyah dan masa Islam. Pustaka Anak Negeri.

Hearty, F. (2015). Keadilan Jender: Perspektif Feminis Muslim dalam Sastra Timur Tengah. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Kader, S. A. (1987). Egyptian women in a changing society, 1899-1987. Rienner.

Killam, G. D., & Rowe, R. (2000). The Companion to African Literatures. Indiana University Press.

Latief, Muh. N. (2005). Citra Perempuan Dalam Karya Nawal El-Sa’dawi. Nady Al-Adab : Jurnal Bahasa Arab, Vol. 3(No. 1), 43–51.

https://doi.org/10.20956/jna.v3i1.3826

Moleong, L. J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif, 17. Remaja Rosdakarya.

Moleong, L. ; M. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif / Lexy J. Moleong. PT Remaja Rosdakarya.

Mooduto, D. M. (2018). Peran Perempuan Mesir dalam Konstruk Sosial Pascakolonial. Muwazah, 10(2), 116–137.

https://doi.org/10.28918/muwazah.v10i2.2227

Moore, L. (2008). Arab, Muslim, Woman: Voice and Vision in Postcolonial Literature and Film. Routledge.

Ratna, N. K. (2021). Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Pustaka Pelajar.

Salâm, Z. (1961). Atsâr al-Qur’an fi Tathawwur al-Naqd al-Arabi ila Âkhir al-Qarn al-Râbi’ al-Hijri. Dâr al-Ma’ârif.

About Ayu Rahmadini

Ayu Rahmadini, lahir di desa Kunangan, kab. Muaro jambi, provinsi Jambi. Saat ini, sedang menjalani perkuliahan di pascasarjana perguruan Negeri Islam Yogyakarta. Sejak kecil suka membaca buku apa saja hingga akhirnya menyukai hal-hal terkait sastra dan seni.

View all posts by Ayu Rahmadini →

282 Comments on “Kolase Sastra Arab Perempuan”

  1. Hello!

    This post was created with XRumer 23 StrongAI.

    Good luck 🙂

  2. Hello.

    This post was created with XRumer 23 StrongAI.

    Good luck 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *