Jebakan Kebebasan dalam Feminisme Liberal

Tulisan ini adalah hasil dari obrolanku (bisa juga disebut perdebatan) dengan salah seorang kawan perempuan yang mendaku dirinya sebagai seorang feminis—entah feminis mana yang ia maksud.

Perdebatan ini dimulai dari persoalan ‘prostitusi’, baginya prostitusi/pelacuran itu boleh-boleh saja sebab ia adalah bentuk ekspresi identitas dan kebebasan penuh seorang perempuan terhadap tubuhnya jika itu memang kehendak dirinya. Bertolak dari konsep otonomi penuh terhadap tubuh seorang perempuan, ia menganggap bahwa praktik tersebut (prostitusi/pelacuran) sah-sah saja. “Aku percaya dengan jargon ‘tubuhku adalah otoritasku’ sebab hal tersebut adalah bentuk emansipasi dan kebebasan yang sebenarnya”. Demikian ia mengatakan.

Aku mencoba memberi kritik terhadap apa yang ia utarakan. Bagiku, apa yang ada dalam pikirannya merupakan satu analisis impoten, atau bahkan mungkin tanpa analisis, yang hanya bertaut pada ‘kebebasan’ yang ia agung-agungkan. Bagiku, ada satu hal yang luput ia baca, yaitu soal bagaimana si Pelacur sampai rela menjual tubuhnya. Tentu ini bukanlah hal yang alamiah. Ia lahir secara artifisial. Ada ‘Suprastruktur’ yang menyebabkan bercokolnya praktik tersebut, yakni kekacauan ekonomi-politik yang diakibatkan oleh kapitalisme.

Jika toh kita tarik lagi dengan pertanyaan fundamental, siapa yang diuntungkan dalam praktik prostitusi itu? Bukankah hal tersebut merupakan bagian dari objektivikasi perempuan sehingga perempuan itu sendiri dianggap sebagai objek seksual saja (sama seperti kritik kaum feminis terhadap tradisi di dunia Timur, yang dianggap sebagai bagian dari Islam)? Bukankah objektivikasi itulah yang melahirkan satu keadaan yang disebut ‘ketertindasan’?

Alih-alih menjawab pertanyaan-pertanyaanku, si Feminis ini malah menuding aku sebagai orang yang sok tau tentang gerakan emansipasi perempuan sementara aku sendiri adalah laki-laki. Aku juga distigma sebagai orang yang terkena bias gender. Entah apa yang ia maksud. Mungkin ini yang disebut sebagai “senjata makan tuan”. Tapi abaikan saja. Di sini aku tak mau bercerita terlalu panjang tentang hal-hal konyol tersebut.

Aku akan memulainya dengan mengkritisi wacana ‘Feminisme Bablas’—istilah yang kudapat dari seorang kawan untuk menyinggung gerakan Feminisme Liberal.

Pertama, kita perlu mendudukkannya sebagai satu ‘wacana’ yang tentu tidak dapat kita lepaskan dari unsur politis. Tujuan apa yang ada di balik wacana tersebut dan pada siapa ia berpihak? Maksudku Feminisme Liberal yang ‘sepertinya’ dominan dalam gerakan emansipasi kita hari ini perlu kita bedah lebih jauh lagi untuk mengungakap jebakan-jebakan yang ia ciptakan melalui proses standar ganda. Mengapa aku menyebutnya jebakan? karena standar ganda yang dilakukan dalam wacana kolonialisme (dalam hal ini Feminisme Liberal) seolah ‘memberadabkan’, tapi di sisi yang lain juga membawa kita pada satu realitas semu yang ujungnya pun akan sama, yakni pola kolonialisme baru (neo-kolonialisme).

Feminisme liberal seringkali melakukan akrobat akademis yang fokus pada agenda emansipasi dengan bias Liberalisme. Tidak heran jika kemudian wacana ini berpelukan mesra dengan kapitalisme dan patriarki. Mengapa demikian? Sebagai contoh, persoalan iklan kosmetik yang menampilkan perempuan berkulit putih dengan tubuh molek, bukankah hal ini tidak termasuk dari bagian objektivikasi perempuan? Atau kalau kita telaah lebih luas lagi, dari femomena tersebut terdapat kekerasan psikis yang merasuk dalam benak para perempuan, bahwa “cantik itu putih” dan tentu “hitam adalah jelek”. Hal ini memberi efek rasial dan stereotip buruk terhadap ras kulit hitam.

Feminisme liberal seringkali acuh terhadap persoalan ini. Alih-alih untuk menganggap hal tersebut sebagai permasalahan, feminis bablas (liberal) bahkan mengamininya dengan dalih bahwa hasrat sejati manusia adalah mengejar otonomi dan keluar dari kungkungan dogma, maka perempuan perlu keluar dari domestifikasi yang dianggap lahir dari dogma agama dan patriarki. Pada akhirnya, “wanita karir” dianggap sebagai gambaran ideal seorang perempuan. Tapi di sisi lain fenomena keluar dari domestifikasi ini seringkali menjebak pada realitas komersialisasi tubuh dan objektivikasi perempuans eperti yang terjadi di atas.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa aku tidak menganggap perempuan harus menyibukkan diri pada kerja-kerja domestik. Hal ini bagiku hanya perihal pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan, sesuai dengan kesepakatan antara keduanya.

Kedua, agenda-agenda yang terdapat dalam feminisme liberal bersifat borjuistik; hanya berkutat pada persoalan seksualitas, otonomi tubuh, dan agensi identitas individu, seolah-olah kemajuan seorang perempuan hanya diukur melalui kacamata individual. Di sini kemudian kita bisa melihat bahwa agenda-agenda tersebut begitu parsial dan tak menyentuh problem sebenarnya yang tengah mensubordinasi perempuan.

Aku sepakat dengan Clara Zetkin yang, dalam pidatonya di kongres Partai Sosial-Demokrat Jerman tahun 1896, mengatakan bahwa persoalan perempuan itu muncul ketika mode produksi kapitalisme menghancurkan sistem ekonomi keluarga lama yang menjamin kehidupan perempuan. Zetkin memberi ilustrasi bahwa perempuan yang hendak membantu suaminya justru terjerat dalam persaingan roda kapitalisme yang timpang. Ia menjadi terpisah dengan anaknya karena jam kerja yang begitu panjang.

Bagi Zetkin, musuh perempuan kelas pekerja bukanlah laki-laki kelas pekerja, justru baginya perempuan kelas pekerja harus bahu membahu dengan laki-laki kelas pekerja untuk menghancurkan sistem kapitalisme yang timpang. Di sini titik tumpu yang menjadi akar persoalan bagi Zetkin bukan hanya terletak pada identitas dan agensi individu, melainkan pada sistem Kapitalisme. Zetkin meyakini bahwa perjuangan emansipasi ini perlu lahir dari bawah (dari kelas pekerja dan semua kelompok yang tertindas).

Aku mengamini apa yang menjadi ikhtiyar Zetkin karena hari ini sistem kapitalismelah yang melahirkan keterpurukan bagi masyarakat bawah dan benar-benar mensubordinasi peran perempuan.

Ketiga, kebebasan yang digaungkan dalam wacana feminisme liberal ini seringkali menuai kekerasan epistemik. Sebagai wacana yang lahir dari tradisi sekuler Barat, wacana ini seringkali memberikan stereotip buruk terhadap kesalehan perempuan di negara dunia ketiga, utamanya negara yang mayoritas muslim. Feminis liberal akan menganggap bahwa perempuan-perempuan tersebut terkungkung dalam norma yang usang dan tak mencerahkan (karena tak sesuai dengan sekularitas Barat) sebab bagi mereka perempuan yang tercerahkan adalah mereka yang hendak keluar dari kungkungan dogma. Di sini mereka menganggap bahwa gerakan perempuan yang bertolak dari kesalehan dianggap tak sesuai dengan langgam emansipasi (yang sebenarnya emansipasi ala Barat yang sangat kolonialistik itu).

Streortip yang demikian kemudian melahirkan  islamophobia yang tergenderisasi menjadi ‘hijabophobia’. Hijab akan dihakimi sebagai keterkungkungan seorang perempuan muslim. Perempuan muslim di sini telah menjadi subaltern dan ‘yang lain’ yang hendak diberadabkan oleh perempuan-perempuan Barat.

Ada semacam oposisi biner yang diciptakan dalam wacana ini, seolah perempuan Barat yang “sekular”, “liberal”, dan “demokratis” begitu superior sementara perempuan muslim yang berhijab dianggap inferior karena lahir dari tradisi “misoginis”, “patriarkal”, dan “despotik”. Misi pemberadaban ini khas sekali dalam wacana kolonial. Di sini poinnya bahwa feminisme liberal di sisi lain bersekongkol dengan kolonialisme yang merupakan wajah dari kapitalisme.

Sumber ilustrasi: artofit.org

Wildan Hidayat

About Wildan Hidayat

Penulis

View all posts by Wildan Hidayat →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *