French Feminism is Just Irritating

Feminisme Prancis (French feminism[1]) dikenal di Indonesia dalam dua bentuk : feminisme posmodern dan feminisme psikoanalisis. Dengan Luce Irigaray, Helene Cixous dan Julia Kristeva sebagai tiga tokoh utama yang mewakili. Menariknya, Simone de Beauvoir tidak diidentikkan dengan French feminism. Ia diberi label sendiri : feminisme eksistensialis, yang mana istilah ini sendiri tidak pernah benar-benar eksis di Prancis.

Pemahaman kita mengenai French feminism memang terbatas dari yang kita temukan dalam literatur-literatur berbahasa Inggris. Istilah French feminism ini sendiri adalah buatan, hasil fabrikasi seutuhnya oleh kelompok feminis Amerika Serikat dan sebagian oleh kelompok feminis Inggris. Kelompok feminis dari negara-negara berbahasa Inggris ini menurut Christine Delphy, figur feminis penting di Prancis, telah terobsesi untuk memberi nama tunggal dan mendefinisikan feminisme di Prancis.

French feminism bukanlah feminisme di Prancis, demikian sosiolog dan peneliti yang sudah “resmi” menjadi aktivis feminis sejak ia bergabung dalam Gerakan Pembebasan Perempuan (Mouvement libération des femmes, 1968) ini menegaskan. Prancis tidak butuh nama khusus untuk feminisme mereka, tambahnya.

Tetapi yang menjadi sumber utama kejengkelan yang dalam pada diri Delphy dan kawan-kawan adalah bahwa sebagai feminis di Prancis, mereka tidak merasa menemukan diri mereka di dalam French feminism. Dengan perkataan lain, French feminism karya feminis Anglo-American ini jauh dari realita yang sesungguhnya mengenai feminisme di Prancis.

French feminism sangat mengganggu Delphy. Ia menyampaikan sejumlah kejengkelannya dalam artikel L’Invention du French feminism : une démarche essentielle (1996).[2]  Pertama, upaya untuk mengatribusikan konten tertentu terhadap gerakan feminis menunjukkan bahwa kita berhadapan dengan perspektif pihak luar. Maksudnya di sini French feminism bukanlah pendefinisian dari feminis Prancis itu sendiri tetapi pihak luar. Dalam hal ini kelompok intelektual feminis Anglo-American.

Pelabelan ini berbicara antara bagaimana kelompok feminis melihat diri mereka sendiri dan bagaimana pihak luar melihat mereka. Antara pengamat dan yang diamati, antara subjek dan objek, yang menggambarkan adanya relasi kuasa. Delphy melihat bahwa kelompok feminis Anglo-American (seolah) punya kekuasaan atau merasa dirinya berkuasa untuk mendefinisikan feminisme di Prancis. Padahal relasi kuasa merupakan hal yang ditolak feminisme. Tetapi mereka justru dengan sesuka hati memilih apa yang ingin mereka masukkan dalam French feminism.

Kedua, hasil seleksi kelompok feminis Inggris-Amerika ini tidak jelas dasarnya tetapi yang pasti French feminism yang mereka ciptakan sama sekali tidak mewakili feminisme di Prancis. Feminisme psikoanalisis (yang sebenarnya di Prancis dinamakan sebagai differentialis atau esensialis) bukanlah aliran yang populer di Prancis, bahkan cenderung ditolak karena berisiko mengembalikan perbedaan perempuan dan laki-laki hasil konstruksi masyarakat kepada kodrat. Feminisme posmodern tidak pula dikenal di Prancis.[3] Tiga tokoh yang dijadikan perwakilan tidak representatif bahkan bisa dibilang suatu kesalahan menjadikan mereka sebagai perwakilan feminis dari Prancis.

Irigaray, Cixous, dan Kristeva bukan aktivis feminis. Cixous dan Kristeva tidak pernah terlibat dalam gerakan. Irigaray tidak lagi bergabung dalam aksi feminis sejak tahun 1979. Mereka bertiga menyampaikan gagasan-gagasan mereka melalui tulisan. Menganggap perempuan secara otomatis sebagai feminis karena ia menulis tentang perempuan menunjukkan adanya dasar pemikiran yang tidak tepat dan juga mengabaikan bahkan meniadakan dimensi aktivis dari gerakan feminis, demikian Delphy berpendapat.

Irigaray dikeluarkan dari tempatnya mengajar akibat berani menentang teori Freud dan Lacan. Sejak tahun 1979, filsuf kelahiran Belgia ini tidak lagi terdengar namanya di Prancis. Pemikiran-pemikirannya terkenal di negara lain tapi tidak di Prancis. Dalam sebuah wawancara dengan harian Liberation pada tahun 1997, ia menyatakan bahwa Prancis yang telah memberikan kewarganegaraan kepadanya justru menjadi negara yang paling tidak menginginkannya.[4]

Sementara itu, Cixous mendirikan kajian feminin dan gender, bukan kajian feminis dan gender.  Ia menawarkan gagasan mengenai tulisan perempuan (ecriture feminine) bukan tulisan feminis. Ia mengangkat keutamaan perempuan dari anatomi dan peran “kodrati”nya (sebagai ibu misalnya).  Kristeva menolak disebut sebagai feminis. Yang ia lakukan jika memang terkait dengan feminisme lebih bersifat menganalisis feminisme tetapi tidak “melakukan” feminisme.

Ketiga, Delphy melihat French Feminism bukan sekedar menunjukkan kelalaian atau ketidakpahaman tetapi hanya hasil fabrikasi kelompok intelektual berbahasa Inggris dengan menyematkan label French pada teori hasil kreasi mereka sendiri. Ia berpendapat seperti ini karena memang mereka memasukkan tokoh-tokoh yang sebenarnya tidak punya pemikiran yang sama ke dalam satu kategori yang diberi label French.

Seolah-olah label “French” ini menghapus perbedaan konsep antara Cixous dan Irigaray. Ini merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab di mata Delphy.  Delphy menyadari bahwa tulisan terbuka untuk beragam interpretasi. Tetapi bukan berarti pembaca dapat membuat interpretasi yang jauh menyimpang dari tujuan dan konteks penulisan buku.

Keempat, French feminism jelas-jelas merupakan upaya mereduksi sejarah, pemikiran, dan perkembangan feminisme di Prancis. Feminisme di Prancis tidak hanya feminisme psikoanalisis dan feminisme posmodern. Lagi-lagi perlu ditekankan bahwa feminisme posmodern sendiri tidak dikenal dan feminisme psikoanalisis cenderung ditolak dan panggilannya pun tidak demikian.

Terakhir dan sepertinya justru yang terpenting bagi Delphy, kelompok yang menciptakan French feminism telah memanfaatkan perempuan-perempuan Prancis untuk membentuk konsep mereka sendiri mengenai feminisme di Prancis. Tanpa peduli pada perjuangan gerakan feminis dan kajian feminis di negara Prancis sendiri, mereka memfabrikasi French feminism.

Dalam konsep ciptaan ini, mereka memasukkan figur non feminis dan mengangkatnya sebagai representatif feminis, mereka memberikan tempat penting bagi penulis laki-laki yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan feminisme (contoh Jacques Derrida), dan mengangkat teori esensialis yang ditolak di Prancis. Dengan demikian, mereka telah mengaburkan perbedaan antara feminis dan anti-feminis.

Ini adalah sebuah bentuk penjajahan di mata Delphy yang bertujuan menyerang perjuangan kelompok aktivis feminis dan kelompok intelektual feminis terutama yang mengadopsi perspektif konstruktivis dan materialis.[5] Ia mengajukan pertanyaan retorik jikalau kelompok feminis Anglo-American sendiri mau melakukan hal sama kepada kelompok mereka. Melakukan sesuatu kepada kelompok lain, sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan pada gerakan mereka sendiri, merupakan bentuk imperialisme. Penciptaan French feminism dan mendistribusikan konsep  French feminism ini ke seluruh dunia karena bahasa mereka (Inggris) punya “kuasa” merupakan bentuk penjajahan[6], kecam Delphy.

Sayangnya meski Delphy menyampaikan keberatannya dari tahun 1996 dan tulisannya mengenai ini telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, kelompok feminis Anglo-American sampai hari ini masih mendistribusikan French feminism.

Tulisan ini mengacu kepada artikel Christine Delphy berjudul L’Invention du French feminism : une démarche essentielle (1996) yang dimuat dalam Nouvelles Questions Féministes Vol. 17, No. 1, FRANCE, AMÉRIQUE: Regards croisés sur le féminisme (1996 FÉVRIER), pp. 15-58 (44 pages).

[1] Dalam tulisan ini, saya sengaja menggunakan istilah aslinya untuk menekankan bahwa ia adalah produk Anglo-American.

[2] Dalam Nouvelles Questions Féministes Vol. 17, No. 1, FRANCE, AMÉRIQUE: Regards croisés sur le féminisme (1996 FÉVRIER), pp. 15-58 (44 pages).

[3] Meskipun saat ini mereka mengenal istilah ini dan mengetahui bahwa feminisme mereka dinamakan sebagai feminisme posmodern oleh kelompok Anglo-American..

[4] https://www.liberation.fr/culture/1997/01/04/arts-la-philosophe-et-feministe-fait-un-retour-remarque-en-collaboration-avec-siobhan-liddell-au-mus_195110/

[5] Konstruktivis  dan materialistis adalah kelompok feminis yang bisa dibilang lebih mewakili feminis di Prancis karena diadopsi oleh sebagian besar feminis (baik aktivis dan intelektual); mereka menganggap bahwa selain jenis kelamin dan atribut fisik reproduksi, tidak ada yang membedakan perempuan dengan laki-laki. Tujuan mereka adalah menciptakan kesetaraan tanpa menjadikan perempuan justru lebih dari laki-laki. Pandangan mereka bertentangan dengan feminisme psikoanalisis yang dikritik sebagai esensialis karena melihat anatomi perempuan justru akan membuatnya mengembangkan karakter, kelebihan tertentu yang tidak dimiliki laki-laki.

[6] Mengenai peran penjajah ini, ia sangat setuju dengan dengan Claire Moses, feminis Amerika yang juga menyesalkan kolega-koleganya yang dalam pandangannya telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Dalam pandangan Moses (dalam Delphy, 1996), kolega-koleganya telah mengambil salah satu karakteristik Prancis yang sebenarnya paling tidak menggambarkan feminisme yang sesungguhnya di Prancis, hanya saja karakteristik inilah yang paling berbeda dari feminisme di Amerika.  Mereka melakukan eksotisasi dan dekontekstualisasi untuk kemudian menggunakannya untuk kepentingan sendiri tanpa sungguh-sungguh peduli pada perjuangan feminis di Prancis. Ini merupakan tindakan destruktif terhadap gerakan feminis Prancis, meski mungkin saja dilakukan tanpa sengaja.

Sumber Ilustrasi: mirror.co.uk

Ester Lianawati

About Ester Lianawati

Penulis

View all posts by Ester Lianawati →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *