Erich Fromm: Perihal Kebebasan dan Alienasi

Dalam mitologi Yunani dan Ibrani, peradaban umat manusia dimulai dari Adam dan Hawa yang melakukan tindakan pembangkangan atas aturan Tuhan. Tindakan pembangkangan inilah yang kemudian melatarbelakangi kebebasan umat manusia; Adam dan Hawa melawan tatanan yang sudah ditetapkan Tuhan untuk mendapatkan apa yang disebut sebagai kebebasan.

Tindakan menentang perintah otoritas dan melakukan dosa membuat manusia menemukan jati dirinya dan hal ini merupakan awal dari permulaan akal budi manusia itu sendiri. Namun, apa yang terjadi setelah Adam dan Hawa mendapatkan kebebasannya? Keduanya merindukan tempat asalnya. Mereka ingin kembali pada ikatan tradisionalnya. Hal ini menggambarkan dilema manusia ketika dihadapkan pada dua hal, yaitu antara kebebasan di satu sisi dan kenyamanan di sisi lain. Inilah yang selalu menjadi topik utama dalam karya-karya Erich Fromm.

Erich Fromm mengatakan bahwa sekalipun kebebasan itu merupakan sesuatu yang sangat diidam-idamkan tapi pada saat yang sama ia juga merupakan sesuatu yang sangat dihindari. Sekalipun manusia modern telah terbebas dari otoritas-otoritas tradisional dan telah menjadi individu, namun secara bersamaan ia menjadi terisolasi dan menjadi alat bagi tujuan di luar dirinya. Penulis melihat bahwa kritikan Fromm terhadap dilema kebebasan manusia modern Barat yang bersifat dialektik sama dengan situasi hari kita hari ini.

Masyarakat kita hari ini juga mengalami dilema dalam kehidupannya. Walaupun masyarakat modern hari ini telah meraih kebebasan dan terbebas dari ikatan-ikatan tradisional, namun secara bersamaan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat manusia menjadi kesepian dan terisolasi.

Fromm melanjutkan bahwa manusia sebagai subjek yang menguasai dunia atau alamnya dengan aktif dan produktif, tidak bisa dimengerti sejauh kita tidak mengerti konsep negasi pada produktivitas tersebut, yaitu alienasi. Artinya dengan perkembangan manusia yang telah terbebas dari ikatan tradisionalnya dan menguasai alam, tidak bisa lepas dari sebuah pengorbanan, yaitu alam tempat di mana manusia membebaskan dirinya.

Manusia sebagai individu bebas yang telah menciptakan peradaban dan menguasai alam, secara bersamaan, terbelenggu, terisolasi, serta menjadi objek bagi ciptaannya sendiri.

Ketika berbicara tentang kehidupan manusia modern tentu tidak bisa lepas dari sesuatu yang mempengaruhi karakter manusia modern tersebut, di antaranya adalah kapitalisme. Fromm mengatakan bahwa karakter manusia modern kapitalis yang telah berkembang pada abad ke-16 adalah karakter obsesif dan penimbun hingga digantikan dengan karakter pemasaran pada abad ke-19 dan abad ke-20.

Manusia modern kapitalis abad ke-19 dan abad ke-20 telah diarahkan kepada sistem ekonomi modern, yaitu pasar komoditas, di mana semua sistem penjualan, produksi, dan harga diatur dari seberapa banyak permintaan. Akibatnya, manusia modern kapitalis memandang segala sesuatunya sebagai komoditas. Sesuatu itu dipandang bukan dengan seberapa nilai gunanya, melainkan nilai tukarnya; manusia modern menjadikan dirinya terlihat menarik agar diterima oleh orang lain.

Berhasil atau tidaknya seseorang tergantung pada sehebat apa ia mengemas dirinya, seberapa pandai ia menawarkan atau menjual dirinya, demi mendapatkan pengakuan dari orang lain. Manusia modern telah kehilangan rasa percaya dirinya sendiri, ia telah kalah oleh rasa takut yang menghantuinya, dan terpengaruh oleh gaya hidup kapitalis. Pada akhirnya, manusia modern menjadi kesepian dan cenderung akan mencoba lari dari kebebasan, karena ketidakberdayaan terhadap keterasingan.

Kapitalisme tidak hanya membawa manusia kepada kesuksesan dan kebebasan individu dari ikatan-ikatan tradisional yang mengikatnya, melainkan juga membawa manusia kepada meningkatnya kebebasan positif dan memberikan kebebasan-kebebasan baru serta mendorong manusia menjadi individu yang aktif dan produktif. Namun, dengan semua hal itu, secara bersamaan, manusia menjadi terisolasi, takut, dan kesepian.

Individualisasi manusia modern yang diakibatkan oleh kapitalisme memiliki dampak serius pada kepribadian manusia, yaitu alienasi. Menurut Fromm, alienasi adalah pengalaman hidup seseorang yang mengalami keterasingan bagi dirinya sendiri. Dalam keterasingan ini, seseorang akan merasa bahwa semua aktivitas yang ia kerjakan bukan dirinya sendiri, melainkan ia merasa bahwa dirinya menjadi budak bagi dirinya sendiri dan budak bagi dunia luarnya.

Alienasi meliputi hubungan antara manusia dengan manusia lainnya, pekerjaannya, harta bendanya, dan dirinya sendiri. Manusia modern sebagai individu menjalani kehidupan sosialnya dengan sangat tertutup. Hubungan individu dengan individu lainnya adalah hubungan antara persaingan ekonomi dan memperalat satu sama lain, yang ditentukan oleh hukum pasar.

Hubungan ini hanya sebatas benda yang dianggap sebagai komoditi. Hal ini tidak lain karena manusia menganggap manusia lainnya dan dirinya sendiri sebagai komoditi. Hubungan ini adalah hubungan yang bersifat alienanif, karena hubungan keduanya membawa manusia kepada keterasingan.

Manusia dengan ciptaannya sendiri yang begitu canggih dan modern menjadikan individu semakin tidak berdaya, kesepian, dan pada akhirnya menjadi budak bagi ciptaannya sendiri. Keterasingan manusia dari produk-produk ciptaannya sendiri semakin meningkat akibat periklanan modern. Manusia digiring untuk mendapatkan sesuatu yang baik bagi dirinya dari ciptaannya sendiri dengan iklan-iklan yang memanipulasi manusia.

Tujuan dari periklanan ini tidak lain agar produk mereka terjual dengan dalih-dalih kesehatan, kecantikan dan kemewahan. Manusia telah kehilangan kebebasan untuk mengkonsumi apa yang seharusnya menjadi kebutuhannya; ia menjadi kecanduan untuk mengkonsumsi produk-produk kapitalisme modern secara terus menerus.

Manusia yang telah terjebak dalam ketergantungan atas produk-produk kapitalis disebut sebagai manusia konsumerisme. Menurut Fromm manusia konsumerisme adalah manusia yang kesepian, teralienasi, bosan, dan mengalihkan semua “penyakitnya” dengan cara mengkonsumsi terus menerus.

Manusia yang telah terjerumus ke dalam sistem ketergantungan pada produk-produk modern akan merasa cemas, sebab dia menjadi pasif bagi dunianya. Semakin seorang individu merasakan kecemasan dan keterasingan, semakin dia mengkonsumsi dan oleh sebab itu dia semakin merasa cemas. Akibatnya manusia modern menjadi semakin tidak berdaya dan kehilangan kebebasannya. Manusia merasakan bahwa dirinya adalah manusia bebas yang dapat menentukan pilihannya sendiri, padahal dia hanya konsumen yang diatur oleh produsen iklan modern.

Selanjutnya, apa yang harus dilakukan manusia untuk mengatasi dilema yang ia hadapi? Tawaran Erich Fromm adalah aktivitas spontan. Aktivitas spontan adalah suatu aktivitas kehendak bebas dari diri sendiri yang mengandung makna. Artinya, aktivitas spontan tidak lahir dari seorang individu yang dipengaruhi oleh ketidakberdayaannya atau kesepiannya. Pun bukan aktivitas yang bersifat otomatis (seperti mesin), tidak kritis dan dipengaruhi oleh dunia luar.

Singkatnya, aktivitas spontan adalah suatu kehendak bebas seseorang yang terjadi melalui pengalaman-pengalaman, seperti pengalaman emosional, intelektual, dan kesadaran.

Aktivitas spontan memang merupakan tindakan sangat langka dan bahkan mungkin suatu yang tidak disadari kejadiannya. Sebab, spontanitas hanya mungkin bila pemikiran dan tindakannya murni dari dirinya sendiri. Seperti halnya kebebasan positif, realisasi diri tidak cukup hanya dengan pikiran melainkan harus secara total murni dari diri seorang pribadi.

Salah satu cara untuk mengetahui seorang individu yang perasaan, pikiran dan tindakannya lahir dari dirinya sendiri adalah dengan mengenal seorang seniman. Seorang seniman, sebagaimana Fromm menjelaskan, bisa disebut sebagai seorang individu yang dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, dan tindakannya dari dirinya sendiri (aktivitas spontan). Seniman yang dimaksud adalah seseorang yang dapat mengungkapkan isi dari pikiran-pikirannya, perasaannya, dan tindakannya murni dari dirinya sendiri.

Kemudian tidak hanya pada seniman saja kita dapat mengetahui aktivitas spontan ini. Kita juga bisa melihat aktivitas spontan ini pada anak kecil. Menurut Fromm, anak kecil merasa dan bertindak dengan pikirannya sendiri. Mereka secara spontan berkeinginan dan berbicara apa pun sesuai dengan pikirannya sendiri. Kepolosan dan kejujuran dari anak kecil yang tidak dipengaruhi oleh dunia luar membuatnya merasa dan bertindak dengan dirinya sendiri.

Kemudian, pertanyaannya adalah mengapa aktivitas spontan menjadi sebuah jawaban bagi problem kebebasan? Bagaimana aktivitas spontan ini menjadi sebuah solusi bagi masalah kebebasan? Dalam pembahasan sebelumnya penulis telah menjelaskan bahwa kebebasan negatif membawa manusia kepada penyakit mental yang membuat manusia menjadi tidak berdaya, tidak percaya diri dan teralienasi. Akibatnya, manusia menjadi seorang individu yang hidup dalam kecurigaan, menjadikan individu lain sebagai musuh kontestasi dalam persaingan ekonomi serta mengambil jarak bagi lingkungan dan dunia luarnya.

Aktivitas spontan adalah salah satu jalan bagi manusia yang merasa tidak berdaya, teralienasi dan kesepian. Dengan aktivitas spontan ini manusia dapat mengatasi rasa keterasingannya tanpa harus menjual dirinya sendiri demi pengakuan dari orang lain. Karena dalam aktivitas spontan manusia merealisasikan dirinya sendiri secara total, yaitu menyatukan dirinya sendiri dengan manusia, lingkungan, dunia dan dirinya sendiri.

Sejauh manusia itu mampu aktif dan kreatif pada dirinya, maka tidak hanya ia akan menjadi seorang individu yang sadar akan dirinya, melainkan juga ia akan menjadi seorang individu yang kuat, percaya diri dan mempunyai legacy. Sebab, aktivitas spontan bukan perkara aktivitas kerja untuk melarikan diri dari rasa kesepian dan bukan kerja dalam hal mengatasi alam, akan tetapi kerja sebagai ciptaan untuk menyatukan manusia dengan alam. Manusia yang tidak bisa menyatu dengan alam atau tidak mampu melakukan aktivitas spontan, tidak mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya sendiri, adalah manusia lemah dan tidak berdaya.

Fromm melanjutkan bahwa ada suatu hal yang sangat penting dalam aktivitas spontan, yaitu cinta. Menurut Fromm, cinta adalah suatu aktivitas pengalaman batin manusia untuk kesatuan terhadap sesuatu di luar dirinya serta merupakan pengalaman solidaritas terhadap sesama manusia. Dalam aktivitas mencintai, hal yang paling penting bukanlah perkara apa atau siapa objeknya, melainkan kualitasnya. Oleh karena itu, cinta adalah kebebasan yang walaupun telah menjadi satu dengan semua, akan tetapi setiap individu tetap menjadi dirinya sendiri. Cinta membawa manusia pada pengalaman kesatuan di luar dirinya, kesatuan terhadap semua manusia, alam dan bahkan pada dirinya sendiri. Dengan cinta manusia menjadi seorang individu yang bebas, aktif dan produktif tanpa harus mengorbankan dirinya pada suatu otoritas di luar dirinya.

Sumber ilustrasi: direttanews

About Wendi Tri Putra Nasution

Pelajar Filsafat dan Koodinator Lembaga Filsafat dan Teori Sosial Kritis (LEFTIST)

View all posts by Wendi Tri Putra Nasution →

17 Comments on “Erich Fromm: Perihal Kebebasan dan Alienasi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *