DIETER HENRICH (1927-2022): Pembela Metafisika dan Subyektivitas

Dieter Henrich adalah salah seorang filsuf Jerman yang paling berpengaruh dan paling mendalam. Ia lahir pada 5 Januari 1927 di Marburg dan meninggal pada 17 Desember 2022 di München pada usia 95 tahun. Ia 2 tahun lebih tua dari Habermas dan pensiun tahun 1994 dari Ludwig-Maximilians-Universität, München.

Fokus penelitian Henrich adalah tema kesadaran diri, metafisika dan subyektivitas dalam konteks filsafat Idealisme Jerman. Henrich menerbitkan banyak penelitian dan refleksi mengenai tema-tema tersebut dengan mengacu ke filsafat Kant, Fichte, Hegel dan Hölderlin.

Pemikiran dan publikasi Henrich (dan para muridnya yang juga telah menjadi profesor di berbagai universitas di Jerman) mengenai tema di atas sangat berpengaruh dan dikenal dengan nama Mazhab Heidelberg. Kalau sekarang terjadi renaisans tema metafisika, subyektivitas, filsafat „orang pertama“ (the first person) dalam tradisi filsafat berbahasa Jerman (dan juga Anglo-Saxon), sedikit banyak itu karena pengaruh Henrich.

Pemikiran Henrich juga diresepsi di Amerika Serikat. Selama puluhan tahun, sejak 1968, ia menjadi profesor di Amerika, pertama-tama di Universitas Columbia, dan kemudian di Universitas Harvard. Sebelumnya ia telah beberapa kali menolak tawaran jadi profesor ini.

Mungkin menarik dicatat bahwa ada saja filsuf Jerman yang tidak tertarik menjadi profesor di AS. Reiner Forst, filsuf generasi keempat Mazhab Frankfurt yang sangat menonjol sekarang ini, menolak tawaran menjadi professor di Harvard. Dia lebih suka tinggal dan bekerja sebagai profesor di Universitas Frankfurt, dan hanya bersedia sesekali diundang untuk memberikan kuliah ke AS. Manfred Frank, ahli mengenai filsafat romantik dari Universitas Tübingen, beberapa kali menolak tawaran Richard Rorty dulu menjadi profesor di Princeton.

Henrich bersedia ke Harvard atas bujukan John Rawls. Rawls secara khusus memohon kepada Henrich agar bersedia cuti dari Universitas Columbia dan mengajar di Harvard untuk memperkenalkan tradisi filsafat Idealisme Jerman ke publik filsafat Amerika. Dan selama puluhan tahun berikutnya Henrich menetap di Harvard. Henrich kemudian kembali ke Jerman dan pensiun dari Ludwig Maximilian Universität, München, tahun 1994.

Pengaruh Henrich terhadap tradisi filsafat di AS terlihat dari semakin banyaknya publikasi mengenai tradisi filsafat Idealisme Jerman (khususnya Kant, Fichte dan Hegel) dan tema-tema khasnya yang terbit dalam bahasa Inggris. Contoh untuk ini adalah buku-buku yang ditulis Frederick B. Beiser, Robert Pippin, Frederick Neuhouser, dan lain-lain.

Kuliah-kuliah Henrich di Harvard sering dihadiri oleh para profesor terkenal dari tradisi filsafat analitis, seperti Hillary Putnam, W.V.O. Quine, Nelson Goodman, Roderick Chisholm dan lain-lain. Kadang Henrich membuat seminar kuliah bersama dengan salah seorang profesor tersebut. Dalam perayaan ulang tahun Henrich ke-70 di Tübingen, Hillary Putnam hadir dan mengakui ”I`m also a student of Henrich.” Mungkin itu agak melebih-lebihkan, tapi jelas itu memperlihatkan pengakuan akan kebesaran Henrich dan pengaruhnya.

Hector-Neri Castaneda, seorang filsuf terkemuka dari tradisi filsafat analitik, dengan penuh terimakasih menyatakan bahwa Henrich telah memberikan ”kontribusi yang sangat mencerahkan terhadap pemahaman kita akan hakikat kesadaran, kedirian (selfhood) dan kesadaran-diri.”

Penerimaan filsafat Idealisme Jerman di kalangan publik filsafat AS tidak terlepas dari cara Henrich memperkenalkan paham ini. Sebelumnya filsafat di AS hidup dalam tradisi filsafat analitik yang cenderung anti metafisika dan pemikiran spekulatif, sementara Idealisme Jerman sangat metafisis dan spekulatif. Henrich mampu menyampaikan gagasan-gagasan metafisis Idealisme Jerman dengan cara jelas, konkret, argumentatif dan tanpa jargon-jargon metafisis (sebagaimana jamak kita temui dalam tulisan Hegel, Heidegger atau Derrida) yang mengaburkan pemahaman. Henrich juga mampu memperlihatkan relevansi tema-tema filsafat Idealisme Jerman dalam filsafat kontemporer. Misalnya, tentang pentingnya pemahaman diri (self) dewasa ini, tentang relevansi pendekatan transendental dalam filsafat kontemporer.

Pendekatan seperti ini memunculkan perkembangan baru dalam filsafat. Sekarang ini hampir tidak ada lagi perbedaan mencolok antara tradisi filsafat kontinental dan analitik dalam hal tema atau gaya argumentasi. Padahal sejak dulu tema-tema perdebatan di kedua kubu tersebut umumnya berbeda. Namun, sekarang ini kita sering menyaksikan bahwa kedua kubu tersebut masing-masing memperdebatkan tema yang sama. Batas-batas antara tradisi filsafat transendental dan analitis semakin hilang.

Selain Henrich, Habermas dan Ernst Tugendhat adalah filsuf yang sering disebut berperan penting dalam meleburkan batas antara kedua tradisi filsafat ini.

Kritik atas kritik atas metafisika dan subyektivitas

Henrich adalah pembela metafisika dan subyektivitas. Ia mengkritik para filsuf yang mengkritik metafisika dan subyektivitas, antara lain Nietzsche, Heidegger, Habermas dan para filsuf post-strukturalis lainnya. Ia berdebat dengan Habermas mengenai metafisika melalui rangkaian tulisan yang saling mengkritik. Ia menganggap pemahaman Habermas atas metafisika dangkal dan karikatural.

Dalam pandangan Henrich, Habermas harusnya tidak perlu berbicara mengenai post-metafisika, melainkan cukup post-idealisme, karena apa yang dimaksud dan dikritik oleh Habermas dalam filsafatnya bukanlah metafisika melainkan idealisme sebagaimana dipahami Plato atau Hegel. Menurut Henrich, Habermas menyamakan idealisme dan metafisika dan karena itulah ia menuduh Habermas tidak memahami metafisika.

Henrich juga mengkritik konsep subyektivitas Habermas. Dalam filsafat komunikasinya, Habermas mengatakan bahwa subyektivitas adalah produk atau buah intersubyektivitas. Saya menyadari diri saya sebagai saya (dan inilah yang dimaksud dengan kesadaran diri atau subyektivitas) berdasarkan relasi intersubyektivitas saya dengan yang lain.

Henrich dengan cukup meyakinkan menolak pemahaman ini. Ia mengatakan, bagaimana mungkin saya menyadari diri saya sebagai saya kalau sebelumnya saya tidak memiliki kesadaran atau pengetahuan mengenai diri saya? Kalau mitra bicara saya dalam komunikasi intersubyektif mengatakan „engkau“ kepada saya, bagaimana mungkin saya tahu bahwa yang dimaksud dengan „engkau“ itu adalah saya, kalau sebelumnya saya tidak menyadari saya sebagai saya?

Karena itu, Henrich mengatakan bukan intersubyektivitas yang menghasilkan subyektivitas, melainkan sebaliknya: subyektivitas menjadi pengandaian bagi intersubyektivitas. Apa yang terlibat dalam proses intersubyektif adalah subyek-subyek yang menyadari dirinya. Karena itu jika Habermas memprioritas komunikasi intersubyektif atas filsafat kesadaran, Henrich sebaliknya: memprioritas kesadaran atas komunikasi. Henrich tetap membela subyektivitas. Menurutnya subyektivitas adalah Unhintergehbarkeit (titik terakhir yang tidak mungkin dilewati atau pengandaian) dalam seluruh aktivitas manusia.

Henrich juga mengkritik kritik Heidegger atas subyektivitas. Dengan mengikuti Nietzsche, Heidegger (dan juga Habermas) mengatakan bahwa subyektivitas itu adalah manifestasi dari kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht). Mereka mengatakan bahwa Kehendak untuk Berkuasa ini adalah akar filosofis dari berbagai kekerasan dan tragedi dalam sejarah umat manusia.

Menurut Henrich, pendapat ini gampangan, kurang mendalam atau kurang filosofis. Berdasarkan penelitiannya, Henrich tiba pada kesimpulan bahwa subyektivitas muncul sebagai bentuk kehendak untuk pemeliharaan diri (Selbsterhaltung; self-preservation) manusia. Dalam keseluruhan hidupnya manusia selalu menghadapi ketidakpastian. Ketidakpastian ini bersifat eksistensial ontologis. Manusia tidak tahu ia mau ke mana (setelah mati) dan dari mana ia berasal. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Ia rapuh, sering sakit, lupa dan tidak berumur panjang. Manusia itu sangat rentan.

Untuk menghadapi ketidakpastian, kerentanan dan ketidaktahuan yang bersifat eksistensial ontologis itulah maka manusia perlu mengorganisir berbagai hal dalam hidupnya. Itu berguna sebagai pegangan atau orientasi. Manusia kemudian mengorganisir ilmu pengetahuan, kepercayaan atau agama, dunia, filsafat dan dirinya sendiri. Untuk itulah manusia menciptakan sistem-sistem filsafat, ilmu pengetahuan dan kepercayaan, juga identitas atau kesadaran diri.

Semua itu pertama-tama adalah karena keinginan untuk memelihara diri (self preservation), dan bukan karena kehendak untuk berkuasa, sebagaimana secara naif dianggap oleh Nietzsche, Heidegger dan Habermas.

Setelah membaca Henrich saya kemudian menyadari bahwa pada level praktis (sosial politis) filsafat komunikasi dan gagasan post metafisika Habermas memang cukup penting, namun fondasi filosofis filsafat tersebut sebenarnya tidak kuat.

Kalau kita mengikuti argumen pembelaan Henrich atas metafisika dan subyektivitas, maka kita akan melihat bahwa kritik terhadap metafisika dan subyektivitas itu (sebagaimana dilakukan oleh Heidegger dan Habermas) sebenarnya tidak punya dasar yang kuat, naif dan kurang filosofis. Henrich dengan cukup meyakinkan memperlihatkan bahwa subyektivitas dan metafisika memiliki relevansi dan signifikansi yang jauh lebih mendalam ketimbang yang diasumsikan para kritikus tersebut.

Enigma tentang kesadaran diri

Titik-tolak keseluruhan filsafat Henrich adalah problem filosofis yang diangkat oleh Fichte dalam filsafatnya mengenai kesadaran diri. Fichte mengatakan bahwa dalam sejarah filsafat Barat, konsep kesadaran diri sangat sering digunakan, dan bahkan menjadi fondasi filosofis bagi gagasan-gagasan filsafat besar, sebagaimana ditemui dalam filsafat Descartes, Leibniz, Kant, dan lain-lain.

Masalahnya menurut Fichte adalah bahwa para filsuf itu belum pernah menjelaskan secara konseptual bagaimana munculnya kesadaran diri tersebut. Jadi para filsuf hanya menggunakan tema kesadaran diri itu begitu saja tanpa pernah mempertanggung-jawabkan syarat-syarat kemungkinannya. Bagaimana kesadaran diri itu mungkin? Itulah pertanyaan utama Fichte, menurut Henrich.

Dalam sejarah filsafat, penjelasan mengenai fenomena kesadaran diri ini umumnya dilakukan melalui teori refleksi. Teori ini mengatakan bahwa diri mencapai kesadaran mengenai dirinya melalui pertemuan dengan yang bukan dirinya. Jadi, pertama-tama, ada diri. Diri yang pertama ini bertemu dengan yang lain, yang bukan dirinya. Pertemuan dengan yang lain ini kemudian menghasilkan kesadaran bahwa yang lain itu bukan diriku. Kesadaran bahwa saya berbeda dari yang lain itu menghasilkan kesadaran akan diriku, atau kesadaran diri.

Hegel juga menjelaskan proses kesadaran diri melalui proses reflektif dialektis seperti ini, yakni melalui pertemuan antara diri dan yang lain.

Pertanyaan dan kritik Fichte: penjelasan ini tidak memuaskan, karena akan selalu jatuh kepada kelemahan logis petitio principii atau begging the question. Bagaimana saya tahu bahwa (melalui pertemuan dengan yang lain itu, yang kemudian membuat saya menyadari diriku) diriku adalah diriku kalau sebelumnya saya tidak memiliki kesadaran mengenai diriku? Fakta bahwa saya dapat membedakan diriku dari yang lain itu mengandaikan bahwa sebelumnya saya telah memiliki kesadaran atau pengetahuan mengenai diriku sendiri.

Dengan kata lain, kesadaran akan diriku tidak muncul berdasarkan pertemuan dengan yang lain (sebagaimana kemudian dikatakan oleh Habermas), melainkan bahwa pertemuan dengan yang lain itu telah selalu mengandaikan kesadaran diri. Dan justru karena aku telah memiliki kesadaran akan diriku-lah maka saya dapat membedakan diriku dari diri yang lain. Penjelasan asal-usul kesadaran diri melalui moderl refleksi dengan demikian mengandung cacat logis: ia mengandaikan apa yang mau dibuktikan.

(Di sini kita dapat ingat lelucon mengenai orang desa yang pertama sekali masuk mal di Jakarta dan selalu heran melihat di kaca bahwa ada orang mirip dia yang selalu mengikutinya turun naik eskalator. Kalau orang desa itu sebelumnya tidak mengenali atau menyadari dirinya, bukankah seharusnya dia tidak perlu heran terhadap orang yang selalu mengikutinya itu?)

Nah, pertanyaan mengenai syarat-syarat kemunculan kesadaran diri inilah, menurut Henrich, yang menjadi problem filosofis keseluruhan filsafat teoretis Fichte. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Fichte sampai harus lebih 20 kali merevisi filsafat teoretisnya. Hasilnya? Ia tetap tidak berhasil menjelaskan kemunculan kesadaran diri dengan cara yang memuaskan.

Pertanyaan dan problem awal Fichte yang diajukan tahun 1700-an itu kemudian diangkat kembali oleh Henrich hampir 200 tahun kemudian dalam sebuah artikel yang berjudul ”Fichtes ursprüngliche Einsicht” (Insight awal Fichte) yang terbit tahun 1966. Dalam karangan kecil ini Henrich memaparkan problem filosofis dalam penjelasan asal-usul kesadaran diri. Karangan kecil ini sangat terkenal dan bersifat seminal. Karangan inilah yang menjadi titik tolak dan sering dirujuk dalam diskusi mengenai teori filosofis kesadaran diri sekarang ini.

Dengan bertolak dari pertanyaan dan problem yang dipaparkan oleh Henrich dalam karangan kecil itu, sejarah panjang pencarian asal-usul kesadaran diri kemudian dimulai. Henrich dan para muridnya (Ulrich Pothast, Conrad Cramer, Manfred Frank) menerbitkan banyak tulisan, penelitian, refleksi dan percobaan yang berusaha menjelaskan bagaimana munculnya kesadaran diri. Keseluruhan konteks filosofis inilah yang disebut dengan Mazhab Heidelberg. Namanya disebut demikian karena pada saat itu Henrich masih menjadi profesor di Heidelberg.

Namun Mazhab Heidelberg pun tidak berhasil menjelaskan secara konseptual bagaimana munculnya kesadaran diri. Fenomena kesadaran diri tetap gelap dan teka-teki. Kita memang telah selalu memiliki kesadaran diri, kita melakukan refleksi atas kesadaran diri, kita dapat mengobservasinya. Namun, bagaimana ia terjadi, itu pertanyaan yang tetap tidak dapat dijawab secara memuaskan, hingga sekarang.

Apakah kesadaran diri itu merupakan pengetahuan kognitif terhadap diri sendiri, di mana diri berperan sebagai obyek yang diobservasi? Ini tentu tidak mungkin, sebab observasi itu telah selalu mengandaikan kesadaran diri. Kalau kesadaran diri adalah sejenis pengetahuan kognitif yang bersifat inferensial, itu mengimplikasikan kesadaran diri bisa keliru, sebagaimana pengetahuan kita mengenai obyek-obyek di dunia bisa keliru. Namun dalam kenyataannya kesadaran diri tidak pernah keliru.

Tidak mungkin pula kesadaran diri itu merupakan hasil refleksi, sebab refleksi telah selalu mengandaikan kesadaran diri. Melalui refleksi kita memang dapat mengobservasi kesadaran diri, misalnya sekarang ini saya sedang mengetik, namun ini hanya menjelaskan bagaimana kita bersikap terhadap kesadaran diri, dan tidak menjelaskan bagaimana kesadaran diri itu terjadi atau esksis. Kita tidak dapat merefleksikan kesadaran diri untuk mencari asal-usul kesadaran diri.

Dalam disertasi saya di Frankfurt, saya membahas secara kritis proyek filosofis Mazhab Heidelberg ini. Saya menanggapi mereka khususnya dalam kritik mereka terhadap kesadaran diri transendental Kant. Saya mengatakan bahwa kritik mereka terhadap Kant (yang mengatakan bahwa kesadaran diri Kant itu juga tidak mungkin) tidak tepat karena mereka melupakan dimensi transendental filsafat Kant; mereka mengalami Transzendentalsvergessenheit (kelupaan akan transendental). Buku (lihat: https://www.amazon.com/transzendentale-Selbstbewusstsein-Begriff-Selbstbewusstseins-Heidelberger/dp/333910526X) yang berasal dari disertasi saya itu juga digunakan sebagai literatur dalam entri mengenai Dieter Henrich di wikipedia berbahasa Jerman (lihat: https://de.wikipedia.org/wiki/Dieter_Henrich_(Philosoph)

Metafisika sebagai keniscayaan

Dalam perkembangan pemikiran filosofis selanjutnya, Henrich bertolak dari kegelapan ontologis penjelasan genesis kesadaran diri itu untuk mengkonstruksi sebuah sistem metafisika yang bertolak dari subyektivitas.

Henrich mengatakan karena manusia tetap menjadi teka teki bagi dirinya sendiri (ia tidak dapat menjelaskan asal-usul kesadaran dirinya, padahal itu menjadi pengandaian bagi segenap tindakannya) maka manusia harus mengkonstruksi sistem-sistem metafisika yang dapat membantunya memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang dihadapi di dalam hidupnya, termasuk mengenai asal-usul kesadaran diri tersebut. Agama adalah salah satu upaya untuk membantu manusia memberikan jawaban atas pertanyaan eksistensial tersebut.

Henrich mengatakan metafisika adalah sebuah kebutuhan eksistensial manusia. Sepanjang hidupnya, katanya, manusia tidak akan pernah berhenti mengajukan pertanyaan-pertanyaan metafisis, karena pada dasarnya manusia adalah animal metaphysicum justru karena dia animal rationale. Dengan akal budinya, manusia akan selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak dapat dijawabnya dengan pikiran rasionalnya karena pertanyaan-pertanyaan itu telah berada di luar kemampuan kognitif intelektualnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu misalnya tentang asal-usul atau hakikat jiwa, apa yang terjadi setelah kematian, hakikat dunia dan seluruh kenyataan, tentang apakah Tuhan itu ada atau tidak ada, tentang kehidupan setelah kematian, arti kesadaran, tentang makna dan tujuan kehidupan, tentang keadilan, keindahan, dan lain-lain.

Kendatipun pertanyaan itu tidak ilmiah atau betapapun jawaban yang diberikan untuk pertanyaan itu jauh dari standar ilmiah, bukan berarti pertanyaan dan jawaban itu tidak memiliki rasionalitas tertentu. Kehidupan manusia akan terlalu miskin bila segala sesuatu diukur dan ditangani dengan standar-standar rasionalitas ilmiah yang berpatokan pada ilmu-ilmu alam. Kita juga akan terlalu naif sebagai manusia bila semua pertanyaan yang kita ajukan hanya dijawab dengan mengacu ke lingkup bukti-bukti empiris-ilmiah belaka. Sainstisme atau naturalisme jelas tidak memadai untuk merangkum kompleksitas kemanusiaan kita, demikian Henrich.

Henrich menamai sistem metafisikanya dengan All-Einheitsontologie (Ontologi Kesatuan Segalanya). Ini adalah sistem filsafat yang, dengan bertolak dari subyektivitas, merangkum dan memberikan penjelasan untuk segala multiplisitas kenyataan. Di dalam sistem itu, tema-tema seperti Tuhan, keindahan, politik, manusia dan kesadaran dan lain-lain memperoleh tempat dan jawaban. Kedengarannya seperti sistem filsafat Idealisme yang digagas Hegel.

Bedanya dari filsafat Hegel adalah ontologi Henrich bertolak dari subyektivitas manusia yang berusaha memahami diri dan dunianya, sementara Hegel bertolak dari Roh atau Subyek yang menentukan segalanya. Subyektivitas Henrich bukanlah subyektivitas ala Cartesian yang mau menjadi fondasi dan acuan untuk segala sesuatu; ini adalah konsepsi subyektivitas yang dikritik dalam filsafat Barat modern.

Sistem metafisika Henrich disebut metafisika modern justru karena ia bertolak dari subyek, namun subyek di sini bukanlah subyek yang kaku, fondasional, dan serba mendeterminasi; ia adalah subyek yang hendak memahami dirinya, dan untuk itulah ia menciptakan sistem metafisika. Henrich memahami metafisika bukan dalam arti Aristoteles, yakni pemikiran mengenai ”yang melampaui yang fisik”, melainkan sistem pemikiran mengenai keseluruhan (the whole).

Menarik bahwa dengan sistem metafisikanya, Henrich memperlihatkan alasan kuat bagi manusia modern untuk tetap berbicara mengenai Tuhan. Dalam pandangan Henrich, Tuhan adalah entitas yang tidak dapat diabaikan kalau manusia modern ingin memaknai diri dan kehidupannya. Karena alasan inilah maka Komite Sentral Katolik Jerman pada tahun 1995 mengundang Henrich untuk mendengarkannya memaparkan alasan-alasan filosofis bagi kebutuhan akan Tuhan pada zaman Modern. Henrich juga memiliki teori filosofis tersendiri mengenai agama.

Metode penelitian filsafat Henrich disebut dengan Konstellationsforschung (penelitian konstelasi). Ini adalah metode yang tidak hanya meneliti teks-teks resmi karya seorang filsuf, melainkan juga meneliti surat-surat pribadi, resensi-resensi, percakapan-percakapan, hingga arsip-arsip sezaman. Melalui penelitian tersebut maksud dan pemikiran seorang filsuf dapat diketahui dengan lebih baik dan komprehensif; hal yang mungkin tidak selalu terungkap dalam teks-teks resmi.

Melalui penelitian konstelasi inilah, Henrich menghasilkan beberapa kontribusi penting bagi filsafat modern. Antara lain ia berhasil merevisi pemahaman mengenai filsafat Idealisme Jerman. Selama ini, dalam buku-buku teks sejarah filsafat, Idealisme Jerman selalu dipahami sebagai era pemikiran yang bertolak dari Kant, yang kemudian dilanjutkan Fichte, Schelling dan Hegel sebagai penutup. Filsafat keempat filsuf ini dilihat berada dalam kesatuan garis lurus yang berusaha mengerjakan sebuah tema tertentu: yang bermula dari Kant dan kemudian disempurnakan oleh Hegel (”from Kant to Hegel”).

Melalui penelitiannya Henrich memperlihatkan bahwa sejarah Filsafat Idealisme Jerman demikian (”from Kant to Hegel” itu) adalah klaim Hegel sendiri. Henrich mengatakan bahwa keempat filsuf tersebut memiliki proyek sendiri-sendiri yang berbeda, sehingga ketimbang memahami Idealisme Jerman sebagai era ”From Kant to Hegel”, jauh lebih tepat memahami era ini sebagai ”Between Kant and Hegel”. Henrich menulis-ulang sejarah filsafat Idealisme Jerman.

Melalui penelitian konstelasi ini pula Henrich memperlihatkan jasa besar penyair Hölderlin dalam kelahiran era Idealisme Jerman. Hölderlin memperkenalkan prinsip rekonsiliasi dan Ada (Sein) sebagai asal-usul dan dasar bagi identitas dan perbedaan. Prinsip ini kemudian diadopsi Hegel dalam sistem filsafatnya.

Tidak mengagumi Adorno

Pada tahun 2020, Henrich menerbitkan autobiografi filosofisnya yang ditulis dalam bentuk tanya jawab. Judulnya ”Ins Denken Ziehen” (Ditarik ke Pemikiran). Dalam autobiografi ini kita dapat membaca berbagai hal menarik mengenai pengalaman, kesan dan relasi Henrich dengan para filsuf.

Doktorvater (suvervisor) Henrich untuk penulisan disertasinya adalah Hans-Georg Gadamer. Henrich sering bermain catur dengan Gadamer. Gadamer sendiri meninggal dalam usia 102 tahun pada tahun 2002. Tahun 1968, setelah pensiun dari Heidelberg, Gadamer menjadi profesor tamu di Washington. Gadamer sama sekali tidak fasih berbahasa Inggris, tapi ia mencoba berbicara secara langsung dalam bahasa Inggris dalam kuliah-kuliahnya. Di Washington, Gadamer tinggal di sebuah apartemen universitas Katolik di mana berlaku larangan minum alkohol. Namun setiap malam Gadamer selalu menyeludupkan sebotol anggur merah ke kamarnya, kata Henrich.

Henrich juga yang pertama sekali menyambut Adorno, ketika Adorno pulang dari pengasingan dan mendarat di Franfurt. Tapi sambutan itu bukan di bandara melainkan di perpustakaan, yakni ketika Adorno masuk perpustakaan dan melihat Henrich duduk sendirian di sana. Adorno menyapa: ”Saya Adorno. Anda kenal saya”, katanya kepada Henrich. Henrich menjawab bahwa ia mengenal Adorno dan juga membaca buku-bukunya. Adorno, yang waktu itu sudah menjadi filsuf besar, berusaha agar Henrich masuk ke dalam lingkaran asistennya. Ia sangat mengagumi Henrich.

Dalam suratnya kepada Horkheimer, Adorno menulis demikian mengenai kemampuan Henrich. ”Ia seorang anak ajaib, anak berusia 22 tahun bernama Henrich, yang kelihatannya seperti Shelley. Ia hapal isi ”Kritik Akal Budi Murni” di luar kepala, dan mampu mendiskusikan problem-problem filsafat Kant dan sangat mendetail dan luar biasa.” (Saya sendiri tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Adorno dengan Shelley dalam suratnya ini).

Namun rupanya Henrich tidak begitu mengagumi Adorno. Menurutnya, filsafat Adorno bernada sofis. Buku Adorno yang sangat terkenal, Negative Dialektik, menurut Henrich mengandung banyak jargon yang membuat diskusi mengenai dialektika Hegel menjadi kurang mendalam. Perlahan-lahan Henrich kemudian menjauh dari Adorno.

Sumber ilustrasi: nzz

NB: Artikel ini disadur dari laman facebook dengan seizin penulis

 

 

About Fitzerald Kennedy Sitorus

Alumni Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta

View all posts by Fitzerald Kennedy Sitorus →

312 Comments on “DIETER HENRICH (1927-2022): Pembela Metafisika dan Subyektivitas”

  1. Hello.

    This post was created with XRumer 23 StrongAI.

    Good luck 🙂

  2. Hello!

    This post was created with XRumer 23 StrongAI.

    Good luck 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *