Cyber Religion: Beragama Secara online?

Cyber-religion adalah seluruh hal yang berkaitan dengan agama yang disebarkan melalui perangkat media online dan disajikan ke seluruh penjuru dunia tanpa batas ruang dan waktu.

Agama dan Perkembangan Zaman

Zaman Semakin hari manusia dihadapkan dengan perkembangan zaman. Perkembangan zaman telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia baik individu maupun sosial, termasuk agama.

Satu dari sekian banyak bentuk perkembangan zaman adalah perkembangan teknologi, misalnya internet. Manusia modern nampaknya sehari saja tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi (internet). Bahkan kebutuhan manusia terhadap agama hampir dikalahkan oleh kebutuhan terhadap internet. Apakah nantinya eksistensi agama akan dikalahkan oleh internet atau sebaliknya? Tentu hal tersebut menjadi dinamika yang sederhana sekaligus rumit untuk dihadapi. Hubungan antara agama dan perkembangan teknologi saat ini telah menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Ahmad Asir mengatakan bahwa agama adalah ajaran yang bersumber dari Tuhan atau merupakan hasil renungan manusia yang diwariskan secara turun-temurun yang terkandung di dalam kitab suci dan berfungsi sebagai tuntunan dan pedoman hidup bagi manusia. Agama meyakini hal gaib yang dianggap mampu merespon emosi dan keyakinan bahwa kebaikan tergantung kepada hubungan baik dengan kekuatan gaib.

Perkembangan teknologi memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Pada awalnya manusia melakukan komunikasi jarak jauh melalui surat hingga saat ini sampai kepada tahap komunikasi jarak jauh bisa saling tatap muka. Salah satu bentuk dari kemajuan teknologi adalah munculnya cyber space atau dunia maya.

Perkembangan teknologi melahirkan dunia maya atau cyber space yang berfungsi menyempitkan ruang, waktu, dan jarak yang sehingga terhubung satu sama lain dalam satu ruang (ruang maya). Cyber space memberikan pengaruh terhadap kecenderungan praktik keagamaan.

Cyber-Religion (Agama Maya)

Era modern merupakan era yang serba internet atau serba maya. Fenomena tersebut terjadi antara lain disebabkan oleh kebutuhan masyarakat terhadap internet atau dunia cyber. Di sisi lain, realita yang terjadi saat ini sudah sukar melihat perbedaan kebutuhan manusia secara proporsional terhadap agama dan internet.

Selanjutnya, dunia maya menyediakan hampir semua kebutuhan manusia baik kebutuhan materi maupun rohani, misalnya di dunia maya siapapun dapat mencari konten yang berbau agama dengan mudah serta pilihan yang bermacam-macam. Apakah dunia maya yang mempengaruhi agama atau agama yang mempengaruhi perkembangan dunia maya?

Cyber dipahami sebagai media elektronik yang terhubung dalam jaringan komputer yang berfungsi sebagai media komunikasi online yang menghubungkan dunia. Sedangkan religion secara ringkas dapat dipahami sebagai seluruh aspek yang berkaitan dengan teori agama, praktik ibadah dan lain sebagainya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa cyber-religion adalah seluruh hal yang berkaitan dengan agama yang disebarkan melalui perangkat media online dan disajikan ke seluruh penjuru dunia tanpa batas ruang dan waktu.

Ketersediaan konten berbau agama memunculkan sebuah praktik beragama secara maya atau dikenal dengan istilah cyber-religion. Konsep cyber-religion muncul akibat adanya fenomena organisasi dan praktik keagamaan di dunia maya.

Kemunculan fenomena keagamaan di dunia maya mendapat respon yang mengejutkan. Beragama secara maya lebih diminati dibandingkan dengan beragama di dunia nyata. Salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya minat terhadap praktik beragama di dunia maya adalah karena dipandang lebih parktis dan eksklusif dibandingkan dengan beragama di dunia nyata. Internet dalam konteks ini berfungsi sebagai mediasi antara informasi konten dan kegiatan keagamaan yang telah ditetapkan di luar konteks dunia maya. Fungsi lainnya adalah lingkungan kreatif yang membina konten dan aktivitas keagamaan yang dianggap baru secara online.

Højsgaard mengusulkan tiga dimensi dalam memahami cyber-religion secara komprehensif yaitu mediasi, konten, dan organisasi.

Pertama, dimensi mediasi menyebar dari komunikasi yang awalnya berpusat kepada suatu bentuk tubuh komunikasi, namun pada konsep ini komunikasi berpusat pada komunikasi virtual, misalnya ibadah, rapat, dan sebagainya.

Kedua, konten pada awalnya merupakan refleksi dari budaya tradisional, namun pada konsep ini konten pada cyber-religion merupakan refleksi dari budaya maya.

Ketiga, organisasi yaitu pada awalnya organisasi suatu agama nyata mengharuskan organisasi yang sempurna dan resmi, dalam agama maya atau cyber-religion tidak diharuskan memiliki bentuk organisasi resmi.

René Magritte merupakan seorang surealis pernah melukis sebuah pipa dengan susunan kata “ini bukan pipa” yang membentuk pipa. Tampaknya, hal yang sama juga terjadi di dalam cyber-religion. Konsep cyber-religion mempertanyakan tentang keaslian religiusitas.

Sebenarnya apa yang membentuk agama atau interpretasi agama yang nyata? Atau apakah pemeluk agama dapat menerima bahwa praktik agama atau ibadah dilakukan sepenuhnya secara virtual? Bukankah fisik tempat merupakan sesuatu yang tidak bisa ditiadakan? Memang, agama terikat kepada tempat, konten, dan susunan organisasi dalam agama. Masalah yang muncul adalah hal-hal yang berkaitan tersebut tidak dapat ditemukan sepenuhnya di dunia maya.

Hadirnya cyber-religion di satu sisi berperan memenuhi kebutuhan spiritual pengguna dunia maya. Orang-orang yang ingin belajar tentang agama bisa lebih memiliki banyak kesempatan. Kesempatan tersebut tidak harus di madrasah, gereja atau lingkungan keagamaan. Pergeseran terlihat di kalangan masyarakat maya. Apakah masyarakat maya masih membutuhkan Tuhan yang dipahami di dunia nyata? Atau dunia maya telah dijadikan sebagai Tuhan? Tantangan lain yang muncul dalam fenomena tersebut adalah kemunduran masyarakat dalam menghadiri rumah-rumah ibadah dan tempat-tempat kajian keagamaan.

Secara sederhana, rumus cyber religion adalah perilaku maya secara individu kemudian berkembang menjadi kebiasaan yang masif sehingga melahirkan komunitas masyarakat maya atau cyber-community. Pada tahap selanjutnya, kebiasaan-kebiasaan maya yang dilakukan oleh cyber-community secara terus-menerus dan meluas hingga turun temurun melahirkan sebuah kebudayaan baru, yaitu budaya maya atau cyber-culture.

Dengan demikian, hubungan antara agama dan dunia maya dapat dilihat sebagai hubungan budaya. Analoginya, seperti penjelasan sebelumnya; jika cyber-religion adalah hal-hal yang berbau agama disebarkan di dunia maya, maka cyber-culture adalah proses belajar agama di dunia maya.

Ilustrasi: scene306

15 Comments on “Cyber Religion: Beragama Secara online?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *