Arcesilaus Sang Pendiri Skeptisisme Akademi

Sebelum membaca tulisan ini, sebaiknya Anda membaca tulisan pertama saya terlebih dahulu yang bertajuk “Skeptisisme Pyrrho: Menunda Penilaian demi Kebahagiaan”, agar informasi tentang Skeptisisme ini utuh.

*

Ketika Timon — murid dari Pyrrho, pendiri Skeptisisme Pyrrhonisme — meninggal pada 235 SM di Athena, Pyrrhonisme pun ikut meredup dan berakhir. Namun doktrin Skeptisismenya, entah bagaimana, tetap diteruskan dan juga dimodifikasi oleh Akademi Plato yang, seperti kita tahu, merupakan warisan dari tradisi pemikiran Plato.[1]Masuknya gagasan Skeptisisme ini membawa atmosfer baru dalam tradisi pendidikan Akademi yang sejak era Plato tidak pernah berubah.

Tokoh utama yang menjadi penggerak revolusi sekaligus pendiri Skeptisisme pasca-Timon ini adalah Arcesilaus (316-241 SM). Arcesilaus merupakan Kepala Akademi generasi ke-5, menggantikan sang guru, Polemo, yang meninggal pada 276 SM.

Arcesilaus bukan penduduk asli Athena. Sebelum ke Athena, dia awalnya mempelajari matematika dan geometri dari Autolycus dan Hipponicus di kampung halamannya, Pitane. Setelah itu dia belajar musik dengan seorang musikus bernama Xanthus.[2]Lalu pada tahun 298 SM dia datang ke Athena sebagai seorang remaja berusia 18 tahun yang mana saat itu filsafat Pyrrho (Pendiri Skeptisisme), Zeno (Pendiri Stoa), dan Epicurus (Pendiri Epikureanisme) sangat terkenal di Athena.

Sayangnya, keluarganya terutama saudaranya ingin Arcesilaus menjadi seorang orator, bukan filsuf. Itulah sebab dia awalnya memutuskan tinggal sekaligus belajar retorika di bawah bimbingan penerus Aristoteles dalam tradisi Peripatetik, Theophrastus (370-285 SM). Meskipun Arcesilaus terkenal karena kehebatan retorikanya, dia tidak pernah puas. Arcesilaus lalu pergi mendalami filsafat Plato di Akademi, di bawah bimbingan salah dua murid Plato, Crantor (w. 276/5 SM) dan Polemo.[3]Karena hal tersebut Theophrastus pun merasa sedih ditinggalkan oleh Arcesilaus sampai berkata: “Berani-beraninya anak ini (Arcesilaus) meninggalkan sekolahku!”[4]

Arcesilaus belajar di Akademi kurang lebih 20 tahun sampai akhirnya dia diangkat menjadi Kepala Akademi Plato pada 268 SM. Dia termotivasi dengan karya-karya Plato. Namun berbeda dari pendahulu-pendahulunya di Akademi yang mengambil pandangan the world of form dan tentang keabadian jiwa Plato,[5]Arcesilaus sebaliknya memutarbalikkan idealisme Plato menjadi Skeptisisme dengan mengambangkan dialektika Socrates dalam dialog-dialog Plato.[6]

Meskipun Akademi memiliki prinsip kebebasan intelektual demi menjaga agar iklim Akademi tidak jatuh pada dogmatisme, Arcesilaus merevolusi sistem pendidikan Akademi menjadi suatu gerakan yang sama sekali baru,[7]bahkan Sextus Empiricus sendiri pun sampai membagi periode Akademi menjadi 3 (ini juga dijelaskan oleh Diogenes Laertius dalam ‘Lives of The Eminent Philosophers’, hal 257): Akademi lama, yang diprakarsai oleh Plato; Akademi tengah, yang diprakarsai oleh Arcesilaus; dan Akademi baru, yang diprakarsai oleh Aenesidemus (pendiri Neo-Pyrrhonisme)[8]mengingat betapa penting dan berpengaruhnya Arcesilaus dan Skeptisismenya di Akademi. Tetapi ini bukan karena Arcesilaus berhasil memperbaharui tradisi Akademi Plato, sebaliknya justru karena dia menghancurkan tradisi itu.[9]

Cicero mencatat bahwa di masa ketika Arcesilaus diangkat menjadi kepala Akademi, tidak ada akademisi yang mengenal Plato secara personal (maksudnya, tidak ada lagi murid-murid Plato yang tersisa). Karena itu Plato kemudian menjadi figur bersejarah, sehingga saat itu buku-buku Plato menjadi sangat penting. Namun begitu, alih-alih mengambil ide-ide Plato begitu saja, Arcesilaus justru membuat interpretasinya sendiri tentang Plato dan Socrates dengan gaya yang bernuansa Skeptisisme.[10]Cicero menulis:

Arcesilaus adalah orang yang pertama kali mengadopsi beragam dialog-dialog Socrates dan Plato, terutama gagasan bahwa tidak ada kepastian yang dapat ditangkap, baik melalui indra maupun rasio. Dalam penolakan atas indra dan rasio sebagai alat justifikasi kebenaran, dia mengembangkan corak berpikir sederhana yang pernah dipraktikkan oleh Socrates, yaitu untuk tidak mengungkapkan pandangannya sendiri dan selalu melawan argumentasi-argumentasi yang dilancarkan oleh seseorang.[11]

Pandangan bahwa Skeptisisme Arcesilaus mengadopsi gagasan-gagasan Socrates dan Plato di atas barangkali berkaitan dengan salah satu dari dua hal berikut: Pertama, ketika membaca karya-karya Plato, mungkin Arcesilaus menemukan beberapa argumen yang menunjukkan bahwa mendapatkan pengetahuan itu tidak mungkin. Atau kedua, Arcesilaus mungkin dikejutkan oleh fakta bahwa tidak satu pun lawan bicara Socrates yang mampu menjustifikasi atau mempertahankan apa yang mereka percayai.

Di mata Arcesilaus, kedua hal tersebut alih-alih bermuara pada sebuah kesimpulan yang konkret tentang sistem pemikiran Plato, justru memunculkan kecurigaan bahwa pengetahuan sejati itu tidak mungkin didapatkan.[12] Tidak heran jika Ariston, filsuf Stoa sekaligus sahabat Zeno, berkata: “Di depan, dia (Arcesilaus) adalah Plato; di belakang, dia adalah Pyrrho; dan di tengah, dia adalah Diodorus.”[13]

Meskipun dia terkenal cerdas dan bijak, sayangnya Arcesilaus tidak pernah menuliskan apapun “karena dia menunda penilaian mengenai apapun (apochē)”,[14]meskipun ada beberapa laporan — misalnya yang didapatkan oleh Diogenes Laertius — yang mengatakan bahwa “Arcesilaus (pernah) ketahuan merevisi karya-karya tertentu (termasuk Plato), yang menurut beberapa orang pernah diterbitkan, dan menurut yang lain dibakar.”[15]

Arcesilaus mengklaim bahwa filsafat Pra-Socrates adalah filsafat yang bermuara pada pengakuan atas ketidaktahuan, disebabkan oleh ketidakjelasan sesuatu, keterbatasan indra dan rasio, dan kefanaan hidup. Namun perlu dipahami bahwa Arcesilaus tidak menganggap bahwa filsafat Pra-Socrates sebagai sejenis Skeptisisme kuno, sebaliknya dia percaya bahwa ada kesepakatan tidak langsung di antara para filsuf kuno bahwa penampakan bukanlah petunjuk yang dapat diandalkan untuk memahami realitas. Misalnya Democritos yang mengatakan bahwa “indera bukan hanya redup, namun juga dipenuhi oleh kegelapan.”[16]Ini menunjukkan bahwa realitas tidak dapat diakses oleh indera.

Selain dipengaruhi oleh Socrates dan Plato, sebagai seorang Skeptis, Arcesilaus juga dipengaruhi oleh Pyrrho, pendahulunya. Dia setuju dengan Pyrrho bahwa kita tidak tercipta untuk mengetahui sesuatu. Selain itu dia juga sepakat dengan pandangan Pyrrho bahwa kebijaksanaan membutuhkan apochē atau penundaan penilaian.[17]Baik Sextus Empiricus[18]dan Numenius[19]sama-sama mengklaim Arcesilaus sebagai seorang filsuf Pyrrhonisme sejauh dia menolak pernyataan apapun. Sebab seperti Pyrrho dia menolak kapabilitas indra dan rasio untuk mencapai kebenaran.

Sayangnya menurut Sextus, yang membedakan Arcesilaus dengan Skeptisisme Pyrrhonisme adalah, filsafat Pyrrhonisme menangguhkan penilaian mereka terhadap apapun, termasuk sikap menangguhkan penilaian itu sendiri (apochē) sebagai sikap yang benar, di sisi lain Arcesilaus justru memberikan penilaian atau justifikasi terhadap sikap menangguhkan penilaian itu sendiri (apochē) sebagai sikap yang benar dan bijaksana.

Tidak heran banyak filsuf yang menganggap bahwa Skeptisisme Arcesilaus sebagai Skeptisisme dogmatis. Selain itu, inilah yang, saya kira, menjadi objek sindiran Bertrand Russel terhadap Skeptisisme bahwa “Skeptisisme bukan sekadar ragu-ragu tetapi juga keraguan yang dogmatis …. Skeptisisme adalah hiburan bagi orang-orang yang malas karena percaya bahwa orang bodoh sama bijaksananya dengan orang yang berpengetahuan.”[20]Benar saja, Sextus Empiricus, sebagai filsuf Neo-Pyrrhonisme sendiri, pun membagi Skeptisisme menjadi 2 jenis, yaitu: Skeptisisme radikal (Pyrrhonisme) dan Skeptisisme dogmatis (Akademi).

Skeptisisme dogmatis adalah Skeptisisme yang “berpikir bahwa mereka telah menemukan suatu (kebenaran), seperti Aristoteles, Epicurus, dan Stoa, termasuk juga orang-orang seperti Clitomachus (187-110 SM), Carneades (214-128 SM), dan filsuf-filsuf Akademi lainnya.”[21]Sedangkan Skeptisisme radikal adalah mereka yang tidak mengklaim kebenaran apa pun.

Meskipun begitu kritik Sextus Empiricus di atas juga telah mendapat respon dari Cicero dalam ‘Academic’-nya bahwa “ketika aliran filsafat lain tidak ragu-ragu mengklaim bahwa pendapat mereka benar, kami (skeptis Akademi) menganggap bahwa memang banyak hal yang masuk akal yang bisa diikuti meskipun kami tidak tahu apakah itu benar atau tidak … kami jauh lebih fleksibel (daripada yang lain).”[22]

Memang sulit dipahami bagaimana posisi yang tepat dari Skeptisisme Arcesilaus. Tetapi saya menemukan beberapa penulis yang menganggap bahwa kritik dogmatisme — dalam Skeptisisme Akademi seperti Arcesilaus — yang dimaksud oleh Sextus bukanlah dalam konteks dogmatisme yang kita pahami (kebenaran mutlak atas kepercayaan), melainkan apa yang mereka sebut dengan dogmatisme negatif atau dalam terminologi Akademi disebut “appraxia” atau ketidakaktifan. Sederhananya Arcesilaus berpendapat bahwa sulit bagi kita bertindak dan beraktivitas tanpa kepercayaan, maka dari itu diperlukan tindakan yang mengikuti kesan-kesan logis. Biar lebih mudah, mari bayangkan kasus yang dicontohkan oleh Peter Adamson berikut:

… Bayangkan situasi di mana kalian ingin pergi ke kebun binatang untuk melihat jerapah. Untuk bisa keluar rumah, mencari transportasi publik, lalu akhirnya bisa melihat jerapah membutuhkan banyak kepercayaan beruntun, misalnya kepercayaan bahwa hari ini cerah jadi cocok untuk pergi ke kebun binatang, bahwa busnya akan pergi ke kebun binatang, bahwa peta kebun binatang menunjukkan lokasi di mana jerapah berada, dll. Tanpa kepercayaan tersebut kalian tidak akan bisa memutuskan apakah kalian harus ke kebun binatang atau tidak, dan harus melakukan apa.[23]

Dari konsep appraxia di atas, Skeptisisme Akademi sedikit mengadopsi gagasan Stoikisme bahwa orang bijak akan mengikuti kesan-kesan yang tampak masuk akal tanpa harus memberikan persetujuan penuh pada kesan-kesan tersebut. Singkatnya dalam kehidupan sehari-hari, Arcesilaus menyadari bahwa kita membutuhkan kesan-kesan untuk mengarahkan kepercayaan kita sebelum melakukan suatu tindakan, meskipun kita tidak harus menyetujui atau membenarkan kepercayaan atau tindakan tersebut.

Hal ini mengingatkan saya dengan kisah Sphaerus yang ditulis oleh Diogenes Laertius. Sphaerus adalah filsuf Stoa dan murid Zeno dan Cleanthes, pemimpin Stoa yang pertama dan kedua. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Athena, dia pergi ke Alexandria, di Istana Ptolemy Philopator untuk mengajar dan memberi nasihat kepada Raja Kleomenes III.

Dikisahkan bahwa suatu hari sang raja mencoba untuk menguji kepintaran Sphaerus tentang teori kesan katalepstik ala Stoa dengan memberikannya sepiring buah delima yang tampak lezat. Ketika Sphaerus mengambil delima itu untuk dimakan, dia terkejut, ternyata buah delima tersebut palsu dan hanya terbuat dari lilin. Melihat itu raja pun berkata:

Sebagai orang bijak Stoa kau setuju dengan kesanmu yang salah.’ Namun Sphaerus sudah siap dengan jawaban cerdasnya: ‘Apa yang saya setujui bukanlah buah delima (yang sebenarnya), tetapi masuk akal jika berasumsi bahwa itu adalah buah delima (dari penampakannya)…[24]

Jawaban Sphaerus di atas sekilas mirip dengan kisah Pyrrho ketika diberikan madu yang diklaim oleh si pemberi sebagai madu yang manis. Pyrrho hanya berkata: “Madu itu manis, saya tidak menyetujui pernyataan tersebut (juga tidak menafikannya), tetapi saya setuju bahwa madu itu kelihatannya manis.”

Catatan Kaki

[1] Bertrand Russel. A History of Western Philosophy. Hal. 297.

[2] Diogenes Laertius. Lives of The Eminent Philosophers. Hal. 257.

[3] Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Hal. 54.

[4] Diogenes Laertius. Lives of The Eminent Philosophers. Hal. 257.

[5] Bertrand Russel. A History of Western Philosophy. Hal. 294.

[6] Harald Thorsrud. Cambridge Companion to Ancient Scepticism. Hal. 58

[7] Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Hal. 54.

[8] Sextus Empiricus. How to Keep An Open Mind. Hal. 67.

[9] Peter Adamson. Philosophy and The Hellenistic and Roman Worlds. Hal. 178.

[10] Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Hal. 55.

[11] Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Hal. 55.

[12] Harald Thorsrud. The Cambridge Companion to Ancient Scepticism. Hal. 40.

[13] Diogenes Laertius. Lives of The Eminent Philosophers. Hal. 258.

[14] Diogenes Laertius. Lives of The Eminent Philosophers. Hal. 258.

[15] Diogenes Laertius. Lives of The Eminent Philosophers. Hal. 258.

[16] Harald Thorsrud. The Cambridge Companion to Ancient Scepticism. Hal. 59.

[17] Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Hal. 60.

[18] Sextus Empiricus. How to Keep An Open Mind. Hal. 67.

[19] Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Hal. 60.

[20] Bertrand Russell. A History of Western Philosophy. Hal. 296.

[21] Sextus Empiricus. How to Keep An Open Mind. Hal. 29.

[22] Brad Inwood dan L.P Gerson. Hellenistic Philosophy. Hal. 284.

[23]  Peter Adamson. Philosophy and The Hellenistic and Roman Worlds. Hal. 182-183.

[24] Diogenes Laertius. Lives of the Eminent Philosophers VII. Hal. 470.

Daftar Pustaka

Bertrand Russell. A History of Western Philosophy. (1972). A Touchstone Book: New York.

Diogenes Laertius. Lives of The Eminent Philosophers. Terj. James Miller. (2018). Oxford University Press: New York.

Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Cet-2 (2014). Routledge: New York, Amerika Serikat.

Hellenistic Philosophy: Introductory Readings. Terj. Brad Inwood & L.P. Gerson. Edisi ke-2, (1997). Hacket Publishing Company: Amerika Serikat.

John M. Cooper. Pursuits of Wisdom: Six Way of Life in Ancient Philosophy From Socrates to Plotinus. (2012). Princeton University Press: New Jersey.

Peter Adamson. Philosophy in The Hellenistic and Roman Worlds. (2015). Oxford University Press: New York.

Sextus Empiricus. How to Keep An Open Mind: An Ancient Guide to Thinking Like a Sceptic. Terj. Richard Bett. (2021). Princeton University Press: New Jersey.

The Cambridge Companion to Ancient Scepticism. Ed. Richard Bett. (2010). Cambridge University Press: United Kingdom.

Ilustrasi: mediastorehouse.com

One Comment on “Arcesilaus Sang Pendiri Skeptisisme Akademi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *