Amin Abdullah: Inspiring Guru

Saya melihat seorang guru yang inspiratif itu bukan hanya seorang yang ketika menyampaikan materi pelajaran sangat menarik dan komunikatif, bukan hanya seorang yang ketika berbicara terlihat indah dan ekspresif, bukan hanya seorang yang tatkala menguraikan wacana keilmuan memiliki kompetensi dan artikulatif, melainkan seseorang yang tatkala menyampaikan ilmu pengetahuan, dibalik kata-katanya ada ruh keindahan ilmu yang bergemuruh dalam sukmanya sehingga mampu meniupkan spirit keindahan tersebut ke dalam benak pikiran anak didiknya.

Guru inspiratif itu, seorang guru yang dunia belajar-mengajar baginya sudah menjadi misi kehidupannya, sehingga tatkala ia mengajar sesungguhnya dia tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan itu sendiri, tapi lebih dari itu, dia sedang menyampaikan hasratnya, mimpi-mimpinya, cita-citanya, semangatnya, misi-misinya, bahkan seluruh akumulasi pergumulan hidupnya kepada murid-muridnya. Bahkan melampaui semua hal itu, seorang guru inspiratif bukan hanya membawa kenangan indah masa silamnya dan menampilkan dedikasinya hari ini, melainkan juga sedang menghadirkan mimpi-mimpi ideal masa depannya saat ini juga, dalam diri anak-anak didiknya.

Karena ruh ilmu, spirit rasa ingin tahu, dan kedahagaan intelektual telah menyatu dan senantiasa dalam proses menuju horizon ufuk kearifan yang tak bertepi dalam diri seorang guru inspiratif, sehingga nyaris setiap gerak-geriknya, pembicaraannya, sikapnya, tindakannya, dan uraiannya mampu menyuntikkan kedahagaan intelektual yang senada terhadap ilmu pengetahuan bagi orang-orang yang menyimaknya. Sosok seperti itu, sanggup menyentak keterlelapan dan keterlenaan murid-muridnya atau orang-orang yang menyimaknya menjadi terjaga dan sadar diri. Dari orang yang merasa sudah pandai dan pintar, menjadi sadar betapa masih jauhnya jarak antara kepandaian dan kepintaran dengan dirinya. Dari orang yang telah menganggap dirinya sudah mengetahui banyak hal, menjadi sadar kalau dirinya belum tahu apa pun. Dari orang yang sudah merasa nyaman dan damai dengan wawasan ilmiah yang telah digenggamnya, menjadi orang yang gelisah dan resah dengan semua hal yang telah dikuasainya.

Secara karikatural, figur seorang guru seperti itulah yang sanggup mengantarkan seekor bebek yang sibuk mengepakkan sayapnya hanya untuk berteman lumpur-lumpur kotor dan busuk, justru terbang tinggi menembus cakrawala berteman sang rajawali dan keindahan panorama langit biru yang membentang di sekelilingnya. Figur seperti itulah yang mampu menumbuhkan ghirah internal dalam diri kita terhadap ilmu pengetahuan. Dari figur seperti itu pula, yang dapat meniupkan aroma kehidupan baru dalam dimensi kehidupan kita. Breath a new life into our lives. That’s a true inspiring lecture. Dan sosok inspiratif seperti itu, saya temukan pada diri Prof. Dr. Amin Abdullah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Metafora Kacamata

Pengalaman saya bertemu pertama kali dengan Pak Amin, panggilan akrab beliau, sudah cukup memikat saya walaupun saat itu belum mulai mengeksplorasi materi-materi perkuliahan. Ketika pertama kali masuk mata kuliah Pendekatan Pengkajian Islam, dan setelah menanyakan latar belakang saya dan teman-teman semua di kelas yang hanya berjumlah sekitar 11 orang, Pak Amin bertanya secara retoris kepada kami semua: Apa tujuan Anda semua melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi? Apa tujuan Anda melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 saat ini?

Tentu saja mudah bagi kami untuk menjawab semua pertanyaan tersebut. Tapi tak seorang pun di antara kami yang mencoba membuka mulut. Sebab walaupun kami mampu menjawabnya, kami melihat dari intonasi nada pertanyaannya, bahwa Pak Amin ingin memberikan sebuah jawaban idealis-prinsipil yang menyadarkan kami, bukan hanya jawaban-jawaban klise pragmatis-praktis.

“Seringkali ketika saya mengajar mahasiswa-mahasiswa S2 atau S3 baik di Yogyakarta atau Surabaya, tidak jarang saya tanyakan apa tujuan Anda semua melanjutkan pendidikan ke jenjang S2/S3?”, kata Pak Amin lebih jauh, sambil menebarkan pandangannya secara sekilas ke arah kami. Lagi-lagi tak seorang pun di antara kami yang mencoba menjawabnya.

Lalu Pak Amin berkomentar agak cukup panjang: “Kuliah S2 dan S3 itu seperti orang yang membersihkan kacamata yang sudah lama dipakai tapi nggak pernah dibersihkan.” Beliau mengucapkan kalimat tersebut sambil melepas kacamatanya dan mulai membersihkannya dengan tisu.

“Selama ini dia merasa nggak ada masalah dengan kacamatanya. Dia merasa kacamatanya jelas, clear dalam melihat realitas, padahal sebenarnya sudah mulai buram bahkan tidak lagi jelas untuk melihat. Tapi karena nggak pernah dibersihkan, dia merasa nyaman saja dengan kacamatanya. Ketika kacamatanya sudah dibersihkan dan dipakai kembali, tiba-tiba ia baru sadar: semuanya menjadi transparan. Yang awalnya semuanya dipandang sama, sekarang menjadi berbeda: “Ooo itu ada Iqbal; ada Nafisah; ada Zayin; ini ruang kelas untuk kuliah; ada in focus-nya; ada tirai-tirai yang menutupi jendela kaca; dan ada macam-macam yang semuanya menjadi bisa dibedakan secara clear dan konkret.” Beliau menjelaskan metafora tersebut sambil mengenakan kembali kacamata yang telah selesai dibersihkan.

Lalu beliau bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke tengah-tengah ruangan, ke tengah-tengah kami. “Metaforanya seperti itu”, beliau melanjutkan, “kuliah S2 itu, Anda membersihkan pola pikir, perspektif Anda, sudut pandang Anda, mindset Anda. Kalau selama ini Anda hanya mengisi pikiran Anda dengan fakta-fakta, dengan data-data, dengan informasi, dengan wacana-wacana keilmuan dari para ahli apa adanya, sekarang Anda membekalinya dengan beragam pendekatan dan metodologi. Kalau selama ini Anda cuma menyimpulkan materi-materi ilmu secara tekstual, dengan metodologi yang baru, Anda harus mampu merangkai materi-materi yang berserakan mempunyai makna secara kontekstual. Kalau sebelumnya Anda hanya mengutip dari buku-buku para ahli, dengan aneka pendekatan yang baru, Anda harus dapat menyuguhkan jawaban-jawaban Anda sendiri yang kompatibel dengan kebutuhan masyarakat Anda.

Bukan pendapat orang lain, tapi pendapat Anda; bukan tawaran para ahli, tapi tawaran Anda; bukan suara-suara para ilmuwan dari luar negeri, tapi suara Anda sendiri. Sebab setiap jawaban dari kaum ilmuwan pasti bersifat kontekstual-kondisional sesuai dengan problematika dan tantangan yang mereka hadapi. Lalu bagaimana Anda tiba-tiba kok mentransfer jawaban mereka apa adanya terhadap tantangan-tantangan yang Anda hadapi di sini? Padahal masyarakat yang Anda hadapi berbeda; problematika dan kebutuhan yang muncul pun tidak sama. Itu karena kacamatanya tidak pernah dibersihkan, ha..ha..haaaa..” Pak Amin tertawa sambil berjalan mondar-mandir di di tengah-tengah kami.

“Nah, setelah kuliah S2 ini, Anda harus mempunyai perspektif, paradigma, atau mindset yang berbeda dengan orang-orang kebanyakan di luar sana. Kalau masih S1, paradigma berpikir Anda masih sedikit banyak mungkin sama dengan orang-orang di luar sana, oke-lah masih bisa dimaklumi. Tapi kalau Anda sudah melanjutkan kuliah S2, lalu pola pikir Anda masih sama dengan orang-orang kebanyakan di luar sana, Anda sama saja tidak kuliah S2. Anda belum membersihkan kacamata Anda, Anda masih saja memakai kacamata yang lama.” Lalu beliau kembali duduk dan mulai membagikan materi kuliah dan petugas-petugas yang membuat makalah.

Sedikit memang yang disampaikannya pada pertemuan iftitah tersebut, tapi dengan gayanya yang khas, Pak Amin telah menyentak kesadaran kami semua. Ketika saya melemparkan pandangan sekilas ke arah teman-teman, saya melihat dengan jelas bagaimana wajah mereka semuanya mengekspresikan ketakjuban sekaligus kesadaran. Itulah uniknya orang yang sudah mapan dengan keilmuannya, ketika ia berbicara sedikit saja tentang prinsip-prinsip belajar, serta-merta membuat orang-orang yang mendengarnya terjaga dari keterlenaannya selama ini.

Mengapa demikian? Sebab orang-orang seperti itu, tidak berbicara melalui perspektif teoretis semata, melainkan bersuara dari lisan pengalaman langsung; Ia berbicara dari pergumulan intensifnya bersama ilmu, menyarikan serpihan-serpihan terbaiknya, lalu membaginya kepada murid-muridnya.

Orang seperti itu, meminjam ilustrasi pujangga sufi, Sa’di Shirazi: “ Menjadi bijak bukan hanya dengan wawasan keilmuannya, tapi juga ditempa pengalaman bercengkrama dengan ilmunya. Sehingga walaupun hanya sebuah anak panah yang dibidikan dari busurnya, anak panah yang dilepaskan oleh orang-sang bijak bestari tersebut mampu mengenai sejumlah sasaran.”

Pengalaman Kuliah Bersama Pak Amin

Pertama kali saya bertemu dengan Pak Amin sewaktu mengikuti kuliah Pendekatan Pengkajian Islam yang merupakan partner team teaching dengan Ibu Alef Theria Wasim. Sekitar delapan kali pertemuan pertama diampu oleh Ibu Alef, dan sekitar 10 kali selanjutnya diampu oleh Pak Amin. Bersama dengan Ibu Alef saya adem-adem saja, dingin-dingin saja, tidak ada yang menggugah nalar saya. Tapi tidak demikian halnya dengan Pak Amin. Perkuliahan menjadi sangat berbeda ketika berhadapan dengan Pak Amin. Uniknya, walaupun Mata Kuliahnya Pendekatan Pengkajian Islam, Pak Amin justru memberikan materi Hermeneutika. Beliau memberikan 2 buku tentang Hermeneutika yang sudah menjadi klasik: Contemporary Hermeneutics karya Josef Bleicher dan Hermeneutics karya Richard E. Palmer.

Tidak semua materi dalam buku tersebut dibahas, tapi sebagian besar ide-ide pokoknya dikaji. Kami mendiskusikan sejarah perkembangan hermeneutika, aliran-aliran hermeneutika, sampai tokoh-tokoh hermeneutika yang mencakup Schleiermacher, William Dilthey, Heidegger, Gadamer, Karl O. Apel, Jurgen Habermas, dan Paul Ricoeur. Awalnya saya bertanya-tanya, apa hubungannya hermeneutika dengan Pendekatan Pengkajian Islam? Bukankah lebih baik dikaji teori-teori ushul fiqh, maqashid syariah, ulumul Qur’an, dengan bahan-bahan yang lebih kaya dan lebih fresh? Atau melanjutkan materi studi S1, seperti Metode Studi Islam kontemporer misalnya. Tidakkah lebih baik membahas beragam pendekatan dalam mengkaji Islam seperti, pendekatan teologis, sosiologis, antropologis, historis, psikologis, filosofis, dan komparatif dengan analisis yang lebih berbobot, qualified, dan sophisticated? Lebih jauh, bukankah kajian teori hermeneutika dengan pelbagai tokoh-tokohnya dalam kedua buku tersebut tidak sedikit pun menyinggung atau berhubungan dengan wacana Islam? Lalu dimana relevansinya?

Namun ketika memasuki diskusi makalah pertama kali tentang sejarah hermeneutika, dan Pak Amin mulai menguraikan pandangan-pandangannya, semua kegelisahan saya itu terjawab. Meskipun secara teoretik-tekstual teori-teori hermeneutika itu tidak ada hubungannya dengan doktrin Islam, tapi Pak Amin sangat piawai melakukan kontekstualisasi sehingga konsep-konsep hermeneutika memiliki relevansi tersendiri sebagai pisau analisis, sebagai sebuah perspektif, atau sebuah paradigma untuk memperkaya sekaligus mempertajam kajian-kajian terhadap doktrin Islam. Tatkala menguraikan makna hermeneutika di awal pertemuan, seingat saya, Pak Amin dengan mengadopsi pengertian dari Richard Palmer mengeksplorasi setidaknya ada dua signifikansi hermeneutika untuk menopang nash, doktrin-doktrin fundamental Islam: Al-Qur’an dan Sunnah.

Pertama, substansi hermeneutika adalah the art of understanding yang mencakup bagaimana cara mengekspresikan (how to express), bagaimana cara menjelaskan (to explain), dan bagaimana caranya menerjemahkan (how to interpret) doktrin-doktrin Islam yang masih bersifat abstrak, samar, dan sublim menjadi tersingkap maknanya. Tapi, tidak hanya berhenti di situ. Penyibakan makna-makna dari nash doktrin Islam tersebut bukan hanya sekedar dapat dipahami oleh orang kebanyakan atau masyarakat awam, tapi lebih dari itu harus mampu memberikan pencerahan bagi mereka sekaligus bersifat aktual dan kontekstual dengan berbagai problematika yang sedang dihadapi oleh mereka.

Dalam signifikansi relevansi pertama ini, seorang hermeneut bukan hanya dituntut untuk menguasai seluk beluk yang berhubungan dengan teks-teks tertulis yang termaktub dalam ajaran-ajaran baku prinsip Islam, tapi lebih dari itu mesti memahami teks-teks non tertulis atau fenomena faktual kehidupan masyarakat itu sendiri dengan segala problematika yang melingkupinya.

Dengan kata lain, seorang hermeneut dituntut tidak hanya mampu memahami teks-teks doktrin-doktrin Islam secara tekstual, melainkan juga mesti piawai membaca teks-teks sosial. Siapapun yang ingin menggunakan pendekatan hermeneutika dalam membingkai makna-makna yang relevan, ia bukan hanya harus mampu membaca teks-teks mati tapi juga harus dapat membaca teks-teks hidup yang mempunyai dinamika dan kompleksitasnya sendiri.

“Disinilah, ”, kata Pak Amin, “dalam membaca, memahami dan membedah nash-nash keislaman terutama doktrin fundamental Islam, Al-Qur’an dan Sunnah dibutuhkan perangkat-perangkat lain, seperti natural sciences yang mencakup ilmu fisika, biologi, kimia, dan matematika; social sciences yang meliputi ilmu sosiologi, psikologi, sejarah dan antropologi; humanities yang mencakup bahasa, filsafat, sastra, dan seni. Selain dengan menggunakan perangkat religious sciences yang mencakup ilmu tafsir, fiqh, ushul fiqh, kalam, tasawuf, ulumul Qur’an dan hadis.

Tujuannya tidak lain agar pembacaan para cendekiawan terhadap problem-problem umat Islam tidak rigid, mandul, mengambang, dan mengawang, tidak sedikit pun menyentuh realitas permasalahan yang sesungguhnya riil di lapangan. Selain itu, dengan pembacaan yang bersifat integralistik tersebut agar tidak tercipta fragmentaris yang sangat transparan, mencolok, dan melebar antara wilayah agama, religious sciences dengan wilayah-wilayah lain—natural, sosial sciences dan humanities yang justru betul-betul menyatu dalam kehidupan umat manusia. Apalagi setiap wacana keilmuan meniscayakan keterbatasannya yang melekat dalam dirinya masing-masing, sehingga dibutuhkan kedewasaan sikap untuk mau berdialog, berinteraksi, bekerja sama, berbagi, saling mengisi, dan memanfaatkan paradigma ilmu-ilmu lain agar membuahkan perspektif yang lebih mendekati komprehensif-integralistik-holistik.”

Tentu saja, Pak Amin sadar sekali bahwa seorang cendekiawan muslim tidak harus dituntut pula menjadi ahli ekonomi, sosiologi, politik, antropologi, ilmu-ilmu alam, sastra, biologi ataupun ahli matematika. Namun siapapun yang mengkaji agama tanpa mempertimbangkan persoalan-persoalan ekonomi, sosiologi, psikologi, politik, dan budaya yang melingkarinya, niscaya analisisnya akan kering, gersang, dan mandul, sehingga tidak menghasilkan tawaran-tawaran konkret yang bersifat solutif-konstruktif. Dalam ungkapan yang seringkali kita dengar, analisis satu arah tersebut hanya bersifat normatif-tekstual, belum menyentuh tataran objektif-empiris-faktual.

Pendekatan yang hanya menggunakan religious sciences tidak akan lengkap tanpa memperkaya dengan pendekatan natural, sosial sciences dan humanities. Begitu juga sebaliknya pembacaan natural, sosial sciences dan humanities akan kehilangan spirit transendentalnya tanpa melibatkan perspektif religious sciences. Kesemuanya harus saling berbagi, mengisi, dan melakukan dialog interaktif untuk menghasilkan perspektif yang holistik.

Kedua, teks-teks Al-Qur’an dan hadis juga bersifat poly interpretable, hammalat lil wujuh. Karena hermeneutika juga merupakan sebuah proses ‘bringing to understanding’, membawa sesuatu untuk dipahami oleh orang-orang yang menyimaknya, maka seorang hermeneut harus menyadari segala keterbatasan pemikirannya terhadap doktrin-doktrin Islam sesuai dengan keterbatasan latar belakang yang melingkupinya: keterbatasan pendidikan, ilmu pengetahuan, akses budaya, bahasa, ruang sosial, politik, dan lainnya.

Di sini, ketika seorang penafsir melakukan pemaknaan terhadap wacana-wacana keagamaan, sesungguhnya ia hanya menangkap sekeping realitas makna sesuai dengan cakrawala berpikirnya. Sehingga masih menyisakan semesta realitas makna yang tak terkira luasnya. Dengan demikian, sang hermeneut harus menyadari nilai relativitas makna yang telah didapatkan dalam petualangan intelektualnya ketika bergumul dengan teks-teks agama. Ia harus menyadari bahwa “The truth will never be final subjectively, definitively and objectively”, demikian kata Pak Amin.

Sebab tanpa kesadaran tentang nilai relativitas makna yang kita bingkai, tangkap, dan konstruk, tidak jarang menyebabkan seseorang terjebak dalam klaim absolutisme, this is the only truth that we have, simpul Pak Amin. Inilah satu-satunya kebenaran yang kita miliki tanpa pernah sudi menoleh ke luar lagi. Cara pandang seperti inilah, yang tidak mau menerima kelompok lain, menciptakan permusuhan bahkan menyulut konflik dan kekerasan yang dibungkus klaim atas nama agama, keyakinan, dan kebenaran sepihak. Sebaliknya, dengan kesadaran bahwa makna yang kita konstruk bernilai relatif, kita siap menerima sudut pandang, pemikiran, dan paradigma yang berbeda yang telah membangun pemikiran yang berbeda pula terhadap wacana agama dengan kita. Dengan penerimaan pluralitas perspektif tersebut, justru bisa saling memperkaya konstruk pemaknaan masing-masing pihak yang berbeda satu sama lain.

Tapi jangan salah paham, dengan konsep relativitas makna yang telah kita konstruk, bukannya Pak Amin ingin mengajarkan kepada mahasiswa-mahasiswanya agar tidak memiliki keyakinan terhadap suatu kebenaran. Bukan, bukan itu maksudnya. Perspektif relativitas tersebut sesungguhnya mengandaikan kearifan intelektual bahwa setiap kita mempunyai keterbatasan, kelemahan, bahkan kekurangan-kekurangan, dan kenaifan-kenaifan dalam mencandra makna kebenaran dari realitas kebenaran agama yang maha akbar, namun kita tetap meyakini semua bentuk relativitas makna yang telah kita konstruksi.

Dengan ungkapan lain, kita tetap mempunyai kepastian tentang kebenaran, tapi kebenaran yang bersifat relatif sesuai dengan kemampuan nalaritas kita dalam membingkai makna kebenaran. Setiap kita tetap dapat menyakini kebenaran yang telah kita tangkap, namun bukan kebenaran yang utuh, bulat, dan final, sebab dalam perjalanan selanjutnya kita akan menemukan kebenaran-kebenaran baru yang semakin memperkaya, mempertajam, sekaligus memperluas kebenaran yang telah kita temukan sebelumnya.

Akan tetapi satu hal yang pasti, sepanjang petualangan intelektual kita, batas cakrawala kebenaran mutlak/absolut itu tidak akan pernah kita gapai. Kalau boleh diungkapkan apa yang diinginkan oleh Pak Amin dengan-kata-kata Soren Kierkegaard kira-kira menjadi begini: “Bila boleh aku mendambakan bagi diriku, maka yang aku dambakan bukanlah harta atau kuasa, melainkan hasrat untuk meraih apa yang mungkin. Aku ingin mempunyai mata penglihatan yang selalu muda dan selalu cerah terbuka bagi kerinduan untuk melihat apa yang mungkin.”

Atau meminjam bahasa Bertrand Russell, Pak Amin ingin mengajarkan: “To teach how live without certainty and yet without being paralysed by hesitation: “Mengajarkan bagaimana hidup tanpa kepastian, namun tanpa dilumpuhkan oleh keraguan-raguan.” Jadi, Pak Amin menginginkan mahasiswa-mahasiswanya mengenakan perspektif kemungkinan, dengan harapan tersingkap kemungkinan-kemungkinan baru tanpa akhir yang akan memperkaya kearifan kita semua.

Demikian pula, dengan paradigma relativitas tersebut, secara tidak langsung Pak Amin mengajarkan mahasiswa-mahasiswanya untuk rendah hati dengan mengakui keterbatasan wawasannya dalam mengkonstruksi makna dan mesti belajar menerima puspa ragan perbedaan makna yang telah dikonstruksi pula oleh orang lain. Kalau kita telah mampu menangkap sekeping kebenaran, jangan lupa ada orang lain pula yang sangat mungkin telah menangkap sekeping kebenaran pula yang berbeda dengan kita. Dan jika sekeping kebenaran yang telah kita miliki bisa dikombinasikan dengan sekeping kebenaran yang lain, bukankah kita memiliki kepingan kebenaran yang lebih besar, kaya, dan bervariasi?

“Singkatnya”, konklusi Pak Amin, “segala pemaknaan yang kita bangun, baik berhubungan dengan teks-teks agama, sosial, dan alam semesta, merupakan human construction, cultural construction, and political construction.” Artinya, di situ ada keterbatasan kondisi kemanusiaan kita yang pasti melibatkan dimensi sosial, budaya, dan politik yang melingkupinya, sehingga kita mesti tahu diri sekaligus rendah hati.”

Dengan semua eksposisi tersebut, saya menjadi sadar bahwa mendekati Islam tidak harus selalu hanya dengan produk klasik ilmu-ilmu Islam semata, melainkan juga bisa diperkaya dengan ilmu-ilmu di luar Islam, dan salah satunya hermeneutika. Dengan uraian tersebut, Pak Amin telah membuat saya terpesona. Itulah sekilas snapshot pengalaman kuliah saya dengan Pak Amin.

Gurunya Para Guru

Kuliah dengan Pak Amin itu sangat berat, menegangkan sekaligus amat sangat mencerahkan. Sangat berat, karena standard makalah Pak Amin sangat tinggi. Sehingga tidak sedikit mahasiswa yang kewalahan dalam membuat makalah dan cukup ketar-ketir presentasi makalah di hadapan Pak Amin. Sangat menegangkan, karena presentasi makalah di depan Pak Amin tidak sembarangan. Cukup menakutkan. Tapi kuliah dengan Pak Amin juga amat sangat mencerahkan yang tidak akan kita dapatkan dari dosen-dosen yang lain. Kita diajarkan berpikir secara kritis-filosofis, metodologis sekaligus epistemologis.

Kalau ada mahasiswa yang buat makalah datar-datar saja dan normatif, walaupun banyak kutipan dan kaya referensinya, Pak Amin marah. Tapi bukan marahnya orang awam, melainkan marahnya seorang ilmuwan. Kemarahan Pak Amin semakin membuka perspektif mahasiswanya tentang hakikat kuliah pada jenjang magister dan doktoral. Kuliah pada level magister dan doktoral mengharuskan mahasiswa mampu berpikir kritis-filosofis, metodologis sekaligus pada tataran epistemologis. Kuliah pada level magister dan doktoral harus bisa mengantarkan mahasiswa menjadi seorang pemikir kritis yang independen. The intellectual one.

Karena itu, banyak mahasiswa yang setelah kuliah dengan Pak Amin, cara berpikirnya menjadi berbeda. Mereka benar-benar mengalami pencerahan intelektual. Setelah kuliah dengan Pak Amin, banyak mahasiswa yang menjadi pemikir kritis dan menjadi produktif dalam menulis. Pak Amin itu khas, tipe seorang filsuf yang menginspirasi lahirnya banyak ilmuwan.

Sampai-sampai ada ungkapan di sebagian mahasiswa pascasarjana kala itu, bahwa kuliah di UIN SUKA (Sunan Kalijaga) belum dianggap benar-benar kuliah kalau belum kuliah dengan Pak Amin. Sehingga banyak mahasiswa merasa tenang-tenang saja, merasa sudah pintar dan hebat ketika kuliah dengan dosen lain. Tapi ketika kuliah dengan Pak Amin, mereka langsung gelisah, menyadari kelemahannya sekaligus kebodohannya dalam hal critical thinking, metodologi sekaligus epistemologi keilmuannya.

Tapi kehebatan Pak Amin bukan hanya di ruang kelas. Beliau mampu menghipnotis audiens dalam forum-forum besar, baik dalam seminar-seminar nasional maupun internasional. Pengalaman saya aktif mengikuti kegiatan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) sejak 2009 di Solo hingga tahun 2019 di Jakarta, saya selalu menyaksikan secara langsung presentasi Pak Amin yang mampu memukau para intelektual dan ilmuwan, bukan hanya para ilmuwan dalam negeri tapi juga luar negeri. Setiap presentasi bersandingan dengan para presenter ilmuwan dari Barat, Eropa dan Timur Tengah, kehebatan Pak Amin dalam presentasi selalu jauh melampaui semuanya. Tidak sedikit ilmuwan-ilmuwan hebat, ketika presentasi bersama Pak Amin, hilang pesona kehebatannya, tenggelam dalam aura kehebatan Pak Amin.

Presentasi Pak Amin selalu mampu menghipnotis ribuan ilmuwan dan cendekiawan yang hadir. Argumentasi keilmuan yang Pak Amin suarakan dalam presentasi-presentasinya selalu membuat ribuan audiens yang hadir hanyut terpukau dalam keheningan; terhipnotis dengan aura kehebatan seorang Amin Abdullah. Makanya, Pak Amin itu memang tidak dikenal di kalangan awam. Tapi sangat terkenal dan masyhur di kalangan intelektual, cendekiawan, dan ilmuwan. Pak Amin itu, ilmuwan-nya ilmuwan. Cendekiawan-nya cendekiawan. Profesor-nya profesor. Gurunya para Guru.

Akhirnya, ketika mengenang kembali perjumpaan dan pengalaman saya kuliah dengan Pak Amin selama jenjang S2 dan S3 sekitar delapan belas, tujuh belas, enam belas tahun silam, mengingatkan saya pada sebuah peribahasa Cina:

A single conversation with a wise man is better than ten years of study. “Sebuah perjumpaan dan percakapan dengan orang yang bijaksana, cerdas, kritis, dan kreatif lebih baik daripada sepuluh tahun belajar.”

Sekilas, ungkapan ini tampak berlebihan. Tapi secara substantif, ungkapan itu valid. Lihatlah kehidupan orang-orang besar. Biasanya mereka sebelumnya pernah berjumpa dengan orang besar yang telah menginspirasi hidup mereka. Lihatlah kehidupan orang-orang hebat. Lazimnya mereka telah berjumpa dengan orang hebat yang mampu mentransformasi hidup mereka menjadi hebat juga.

Namun sebaliknya juga berlaku. Begitu banyak orang yang menjalani pendidikan bertahun-tahun, tapi hanya menjadi biasa saja, kerena tidak berjumpa dengan sosok seorang guru yang inspiratif. Begitu banyak orang-orang yang menghabiskan sebagian umurnya untuk belajar tapi tetap tidak mampu meniupkan spirit pencerahan kepada orang lain, karena tidak pernah berjumpa dengan seorang guru yang mencerahkan. Karena itulah, berjumpa dengan seorang guru yang cerdas, kritis, kreatif, inspiratif sekaligus transformatif itu amat penting sekali. Carilah guru seperti itu!

PS: Hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun Prof. Dr. Amin Abdullah yang ke-70 tahun. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya ingin mengucapkan: Selamat ulang tahun Pak Amin, semoga panjang umur, sehat wal afiat selalu, semakin arif bijaksana dan tetap produktif dalam berkarya untuk mencerahkan anak-anak bangsa, aamiin.

Ilustrasi: indonesiana.com

About Zaprulkhan

Penulis

View all posts by Zaprulkhan →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *