Agama: Dari Etis ke Estetis

Suatu ketika saya melihat gambar yang menjelaskan makna dari Ketupat: mulai dari namanya yang diartikan sebagaiĀ ngaku lepat (mengaku bersalah) sampai pada bentuknya yang diartikan sebagaiĀ  kiblat papat (mata angin). Saya bertanya dalam hati, benarkah maksudnya demikian? Dari sumber yang saya lihat dinyatakan bahwa makna yang demikian sudah ada sejak abad ke-15 M. Meskipun demikian saya bersikap skeptis. Lalu bagaimana dengan fenomena ketupat yang juga ada di Bali (disebut sebagai “tipat”) yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam?

Saya berpendapat untuk kasus ketupat ini bahwa fenomenanya ada terlebih dahulu, sementara “makna”nya baru ada kemudian. Ada di sini mendahului nilai atau makna. Makna tersebut belakangan disematkan kepada fenomenanya. Kini, sesudah diberi makna, ia bisa dimaknai apa pun tergantung si pemberi makna. Tidak ada hal yang keliru mengenai proses seperti ini. Perkara setuju atau tidak terhadap makna yang disematkan, itu soal lain.

Fenomena pada kasus ini adalah berupa makanan (ketupat). Pada awalnya, ia tidak bernilai baik atau buruk (etis) di dalam dirinya sendiri melainkan lebih kepada sesuatu yang dapat dialami/dirasakan secara indrawi oleh subjek. Ia bercorak pra-konseptual ketimbang konseptual. Jika ia dianggap mempunyai nilai, maka nilainya ini lebih bercorak estetis ketimbang etis. Fenomena makan ketupat tentu lebih bernuansa estetis (rasa enak-tidak enak) ketimbang etis (pertimbangan baik-buruk) apalagi logis (keputusan benar-salah).

Kemudian subjek menyematkan suatu makna dan nilai tertentu kepada fenomena tersebut. Secara implisit, ada standar mengenai yang baik dan yang buruk di sana. Sekarang fenomena tersebut berubah menjadi sesuatu yang bercorak etis, dari estetis menjadi etis. Bagaimana agar pihak lain setuju dengan makna yang disematkan tersebut? Suatu argumen mengenai hal tersebut perlu disiapkan tentunya.

Ketika menjadi suatu argumen, ia harus membangun di dalam dirinya sesuatu yang bersifat koheren dan logis. Dapat dilihat kaitan antara sesuatu yang etis dengan yang logis. Pada akhirnya, dalam derajat tertentu, ia memiliki sesuatu yang bercorak konseptual (meskipun lebih pada tataran praksis ketimbang teoretis). Ada pergeseran dari sesuatu yang tadinya fenomena estetis (pra-konseptual) menjadi sesuatu yang etis (konseptual).

Dari sini dapat dilihat bahwa sesuatu yang bercorak etis (konseptual) adalah berasal dari hal yang lebih mendasar, yakni sesuatu yang bercorak estetis (pra-konseptual). Sesuatu yang etis/logis (konseptual) adalah perkembangan lebih lanjut dari yang estetis (pra-konseptual).

Makna atau nilai adalah sesuatu yang disematkan oleh subjek kepada suatu fenomena. Untuk kasus fenomena ketupat ini, jika kita tidak sepakat terhadap pemaknaan yang diajukan (corak etis/konseptual), kita bisa melacaknya dari mana hal ini berasal (sesuatu yang estetis/pra-konseptual). Kembali ke titik awal, itulah pilihan yang dapat dilakukan. Dari titik ini terbukalah alternatif-alternatif pemaknaan yang lain.

Bagaimana jika model pemaknaan ini diterapkan kepada pemaknaan terhadap agama?
Kita dapat membagi pemaknaan ini menjadi tiga model, yakni legal/formal, etis, dan estetis.
Sebagian besar orang memaknai agama lewat model legal/formal. Di sini yang ditekankan adalah aspek fisik atau eksternal. Model ini memiliki kekurangan karena bersifat kering. Sudah banyak orang yang membahas model legal/formal ini.
Kekurangan model legal/formal coba ditutupi dengan model etis. Pada model etis ini pemaknaan menjadi lebih ruhani dan otonom dibandingkan model legal/formal. Hal ini juga sudah banyak yang membahas.

Saya berpendapat bahwa model etis ini lebih baik daripada model legal/formal tentunya. Namun tawaran yang coba saya sajikan adalah pemaknaan model ketiga, yakni pemaknaan secara estetis.
Argumen yang dikembangkan adalah bahwa hal fundamental dalam agama bukanlah legal/formal, bukan pula etis (konseptual) melainkan estetis (pra-konseptual).

Kita beranjak dahulu ke ranah filsafat, Aristoteles menyatakan bahwa metafisika adalah filsafat pertama, sementara itu Buddhisme dan Emmanuel Levinas menyatakan bahwa etika adalah filsafat pertama. Tulisan ini memberikan alternatif lain bahwa filsafat pertama bukanlah metafisika atau etika melainkan estetika. Tesis ini tentunya memerlukan elaborasi lebih lanjut.

Sumber Ilustrasi: weheartit.com

Novian Widiadharma

About Novian Widiadharma

Dosen Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

View all posts by Novian Widiadharma →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *