Aenesidemus dan Neo-Pyrrhonisme

Seperti yang pernah dibahas dalam tulisan saya sebelumnya, bahwa bangkitnya Skeptisisme Akademi menandakan akhir Pyrrhonisme. Sebab pasca Timon, Pyrrhonisme tidak mengalami regenerasi (termasuk fakta bahwa Pyrrho tidak menuliskan apapun tentang konstruksi filsafatnya), di sisi lain pengaruh aliran-aliran filsafat lain juga sangat memengaruhi jatuhnya Pyrrhonisme ini seperti Epikureanisme, Stoikisme, dan bahkan Akademi Plato.

Namun, meskipun pengaruh Akademi yang dianggap mewarisi semangat Pyrrho — terutama ketika Skeptisisme Arcesilaus mengambil alih wacana pemikiran Akademi secara khusus dan Athena secara umum — sangat besar dan tersohor, bukan berarti sekolah ini sekuat dan semasyhur namanya. Sebab seperti aliran-aliran yang pernah ada sebelumnya, pada akhirnya sekolah ini jatuh juga karena gagal menjawab tantangan zamannya.

Setelah meninggalnya Arcesilaus, Skeptisisme Akademi lalu diteruskan oleh Carneades. Meskipun Arcesilaus memiliki tiga murid lain seperti Lacydes, Evandrus, dan Hegesinus, namun tidak ada yang lebih baik dalam hal kekritisan dan retorika selain Carneades, bahkan menurut beberapa penulis sejarah filsafat Carneades sudah melampaui Arcesilaus dalam hal retorika dan analisis.[1]

Sayangnya ini tidak berlangsung lama, sebab hanya dalam beberapa dekade saja kredibilitas Skeptisisme Akademi menurun, alih-alih meningkat. Beberapa alasannya adalah: Pertama, karena perdebatan dan pengaruh panjang antara Skeptisisme Akademi dan Stoik, terutama antara Chrysippus dan Carneades; Kedua, karena perbedaan pandangan antara Carneades dan Arcesilaus; Ketiga, karena perbedaan pandangan antara Carneades dan murid-muridnya seperti Clitomachus dan Philo of Larissa;[2] dan terkahir karena pengaruh gereja dan Neo-Platonisme di era Cicero.

Tetapi ini bukan tanda berakhirnya Skeptisisme Yunani, sebaliknya ini menjadi awal baru bagi aliran yang dipelopori oleh Pyrrho ini. Bahkan, jika saya boleh mengatakan, pasca-Akademi, Skeptisisme justru kembali disucikan dari dogma-dogma Platonisme dan Stoik. Figur yang menjadi tokoh kunci dalam gerakan purifikasi Skeptisisme ini adalah Aenesidemus.

Sayangnya “masa hidup Aenesidemus kurang pasti,”[3] mengingat informasi yang kita miliki tentang dia sangat terbatas,[4] bahkan nyaris tidak ada bukti pasti tentang kehidupan Aenesidemus. Sedikit yang kita ketahui berasal dari deskripsi Pyrrhonian Discourses di Myriobiblion of Photius dari abad ke-9, serta beberapa penyebutan namanya dalam karya Sextus Empiricus, Diogenes Laertius, Aristocles of Messene, dan Tertullian.[5]

Namun begitu sebelum saya menjelaskan siapa sosok Aenesidemus ini dan seperti apa gagasan-gagasan yang dia tawarkan, saya kira penting untuk melacak hubungan atau sanad keilmuan Aenesidemus dengan Pyrrhonisme, mengingat dia lah yang nanti membangkitkan kembali tradisi Skeptisisme Pyrrho itu sendiri.

Menurut Diogenes Laertius, ada dua pandangan yang berbeda tentang Timon, murid Pyrrho, berkenaan dengan penerusnya: Pandangan pertama adalah dari Menodotus, bahwa Timon tidak memiliki murid atau penerus sama sekali sehingga menyebabkan Pyrrhonisme mengalami kemunduran yang signifikan. Tetapi ada pendapat kedua dari Hippobotus dan Sotio, yang mengatakan bahwa Timon memiliki beberapa murid, yaitu Dioscurides of Cyprus, Nicolochus of Rhodes, Euphranor of Seleucia, dan Praylus of the Troad.[6]

Euphranor, salah satu murid Timon, memiliki seorang murid yang bernama Eubulus yang mana nanti menjadi tokoh kunci kebangkitan Pyrrhonisme pasca-Timon. Eubulus memiliki seorang murid bernama Ptolemy. Lalu Ptolemy memiliki dua orang murid, Sarpedon dan Heraclides.[7]

Nah dari Heraclides itulah Aenesidemus mendalami Pyrrhonisme. Akan tetapi sebelum belajar Pyrrhonisme, Aenesidemus pernah belajar di Akademi di bawah bimbingan Philo of Larissa, murid Arcesilaus dan Carneades. Namun begitu ini tidak berlangsung lama, sebab Aenesidemus sering berselisih paham dengan teman-temannya di Akademi termasuk gurunya.

Menurutnya Skeptisisme Akademi mempraktikkan Skeptisisme secara tidak profesional dan setengah-setengah. Dan tidak berbeda dengan apa yang telah saya jelaskan di tulisan sebelumnya, Aenesidemus juga menganggap bahwa Skeptisisme yang didirikan oleh Arcesilaus tersebut sangat dogmatis.

Karena hal tersebut Aenesidemus kehilangan ketertarikan terhadap Skeptisisme pendahulunya di Akademi, bahkan dia sampai menganggap bahwa sejak awal Skeptisisme Akademi sama sekali tidak memahami apa yang dimaksud dengan Skeptisisme itu sendiri, terutama Skeptisisme Pyrrho.

Iklim pendidikan Akademi yang dianggapnya tidak lagi konsisten pada filosofi mereka sendiri tersebut membuat Aenesidemus merasa terasing dari civitas academica di sekitarnya.[8] Bahkan sekalipun Akademi sering berdebat dengan filsuf Stoik, di mata Aenesidemus itu bukan perdebatan antara Skeptisisme dan Stoik, tetapi perdebatan antara Stoik dan Stoik (Stoics fighting against Stoics)[9] sebab menurutnya Akademi dan Stoik sama saja: dogmatis.

Adagium Aenesidemus tentang ‘Stoics fighting against Stoics’ di atas bermula dari perdebatan lawas antara Akademi dan Stoik mengenai kesan kataleptik. Mengingat Akademi sering berdebat dan melakukan tukar gagasan dengan Stoik, di mata Aenesidemus perdebatan ini lebih dalam dari sekadar pertengkaran antara dua rival. Filsuf Akademi setuju dengan pendapat Stoik bahwa rasio dapat membantu kita mencapai kebenaran. Apa yang Akademi tidak setujui dari Stoik adalah kepastian pengetahuan; bagi Akademi kita tidak dapat mengetahui segala sesuatu dengan pasti.

Sayangnya tidak semua filsuf Akademi yang sepemahaman dengan hal tersebut, salah satunya Antiokhus. Alih-alih membela sekolahnya sendiri, dia justru membela Stoik dan bahkan menentang pemikiran Philo of Larissa yang saat itu menjabat sebagai ketua Akademi.[10]

Itulah yang akan terjadi jika Skeptisisme keluar dari prinsip epochē awalnya: konflik internal. Bagi Aenesidemus, Skeptisisme murni mustinya mengikuti jalan Socrates dan Pyrrho, bukan Plato dan Arcesilaus. Apa yang membedakan keempat figur tersebut menurut Aenesidemus adalah jalan skeptis yang mereka tempuh. Socrates dan Pyrrho tidak mengklaim atau menjustifikasi sesuatu, bahkan pada metode mereka sendiri. Makanya Socrates terus-menerus melemparkan pertanyaan, alih-alih mengeluarkan pernyataan.

Di sisi lain, Plato dan Arcesilaus sendiri, meskipun keduanya mengagumi Socrates dan Pyrrho, justru melakukan kebalikannya. Mereka membuat klaim dogmatis, bukan hanya pada argumentasi mereka yang ‘skeptis’, tetapi juga pada jalan ‘skeptis’ itu sendiri.

Akademi bagi Aenesidemus telah meninggalkan pendirian awal mereka yang ketat terhadap epochē, sekarang mengambil keputusan konkret tentang berbagai isu filosofis.[11] Mereka terkesan seperti Stoik versi lite. Karena Skeptisisme yang dikenalnya tidak lagi memuaskan, Aenesidemus pun memutuskan hubungannya dengan Skeptisisme Akademi dengan mensintesis ajaran Heraclitus dan Timon di bawah bimbingan Heraclides. Dengan demikian dia lalu mendirikan sekolahnya sendiri yang nanti dikenal sebagai Neo-Pyrrhonism.

Aenesidemus memulai pemikirannya dengan, terlebih dahulu, membedakan antara Skeptisisme Akademi dan Pyrrhonisme. Menurutnya Skeptisisme Akademi jelas melakukan dogmatisasi dengan, tanpa ragu-ragu, membuat klaim positif atau pembenaran terhadap sesuatu sembari terang-terangan menyalahkan lainnya. Sedangkan Pyrrhonisme tetap konsisten pada pendiriannya dengan melakukan suspend of judgement atau penundaan penilaian terhadap apapun.[12]

“… that those who follow the Academy are dogmatist, and posit certain things without hesitation, while others they do away with without ambiguity; those who follow Pyrrho, by contrast, are aporetic and freed from any dogma, and none of them has in any way said either that things are all inapprehensible.”[13]

Sesuatu dan Propertinya
Seperti Pyrrho, Aenesidemus berpendapat bahwa segala sesuatu tidak dapat dipahami dan tidak dapat diketahui pada dirinya sendiri.[14] Ini mengingatkan saya dengan gagasan Kant tentang fenomena (sesuatu yang tampak padaku) dan noumena (sesuatu itu sendiri). Tetapi Aenesidemus melangkah lebih jauh dari Kant. Dia berpendapat bahwa tanda-tanda (berkaitan dengan cara kita mengidentifikasi sesuatu dalam konteks epistemologi) dan akhir/tujuan (dalam konteks etika) pada dasarnya tidak dapat diketahui. Singkatnya semua hal berada di luar jaring-jaring pengetahuan kita sehingga tidak ada yang dapat diketahui secara pasti termasuk hakikat kebenaran, sebab segala sesuatu, gerak, dan lain-lain.

Hal ini meniscayakan relativitas, bukan hanya indera tetapi juga pikiran itu sendiri. Olehnya Aenesidemus menolak preposisi-preposisi linear seperti A = B atau A hakikatnya B. Sebaliknya Aenesidemus berkata bahwa “Semuanya tidak lebih daripada penampakan ini daripada itu, atau bahwa kadang-kadang hal itu sesuai dengan ini dan kadang-kadang itu, atau sekali lagi setiap orang memiliki kesan dan deskripsi yang berbeda tentang sesuatu, terkadang ini atau itu, dan bahkan bagi sebagian lainnya menyatakan bukan keduanya sama sekali…”[15] Secara sederhana setiap hal memiliki beberapa properti yang bergantung pada pengamatnya dan kondisi-kondisi tertentu.

Biar mudah dipahami saya berikan penggambaran. Mengingat kita tidak dapat memastikan hakikat atau kebenaran sesuatu kecuali properti yang hadir di pikiran kita dari dunia luar sebagai pengamat, maka pengetahuan kita terbatas pada kesan-kesan terhadap properti tersebut, misalnya manisnya madu. Madu memiliki properti manis. Indera dan pikiran kita hanya dapat memahami properti yang dimiliki madu, dan bukan madu itu sendiri. Sebab properti madu bukanlah madu itu sendiri; singkatnya rasa manis bukan madu, dan madu tidak sama dengan manis; manis tidak harus madu dan tidak semua madu itu manis.

Manis-tidaknya madu bergantung pada subjeknya dan juga kondisi yang melatarbelakanginya entah pada madu itu sendiri, lingkungannya, maupun kondisi subjek itu sendiri. Inilah yang menyebabkan properti madu bersifat relatif. Jadi menurut Aenesidemus menahan penilaian tentang hakikat sesuatu sama dengan menahan penilaian terhadap preposisi apapun.

Apakah Skeptis Pasif?
Kesalahpahaman umum menganggap bahwa dengan menjadi skeptis akan membuat kita menjadi pasif karena tidak dapat memutuskan sesuatu. Ini hal yang wajar, karena dengan melakukan epochē atau penundaan penilaian, artinya kita tidak dapat memutuskan sesuatu. Konsekuensinya karena kita tidak dapat memutuskan sesuatu maka kita tidak dapat melakukan sesuatu. Sebab semua yang kita lakukan berasal dari penilaian dan keputusan kita. Konsepsi umum tentang Skeptisisme semacam ini telah diluruskan oleh Aenesidemus seperti yang diabadikan oleh Diogenes Laertius:

“Bahwa Pyrrhonisme tidak mendefinisikan apapun secara dogmatis dalam konteks ketidaksetujuan dan bahwa ia hanya mengikuti apa yang tampak saja (appearance).”[16]

Appearance inilah yang oleh Skeptisisme, baik Akademi maupun Pyrrhonisme, sebut dengan ‘criterion’. Nah di sinilah kata kunci yang membedakan Pyrrhonisme dan Akademi sehubungan dengan cara mengambil tindakan dan keputusan dalam kondisi epochē atau suspend of judgement. Kedua aliran Skeptisisme tersebut sama-sama menganggap bahwa untuk menjalani hidup dan beraktivitas tentu saja membutuhkan penilaian atau justifikasi sesuatu. Namun sebelum melakukannya, kita memerlukan kesan-kesan inderawi dan penilaian rasio untuk menentukan apa yang harus dilakukan. Misalnya keputusanku menjauhi api.

Saya menjauhi api karena kesan inderawiku berkata bahwa api tersebut berbahaya. Tapi preposisi bahwa “api berbahaya” (A=B) yang didasarkan pada criterion atau penampakan tersebut akan ditanggapi secara berbeda oleh Akademi dan Pyrrhonisme. Bagi Akademi, preposisi tersebut tampak benar dan olehnya keputusanku menjauhi api adalah keputusan yang benar. Di sisi lain, bagi Pyrrhonisme preposisi tersebut tampak benar, namun “kami menangguhkan penilaian apakah berbahaya adalah sifat alami api”[17] dan Pyrrhonisme tidak dapat menjustifikasi bahwa tindakanku yang menjauhi api tersebut sebagai tindakan yang benar mengingat kita tidak pernah tahu apa yang benar.

Aenesidemus dan Heraclitus
Hal yang khas dari Aenesidemus adalah bagaimana dia mengawinkan Pyrrhonisme dan Heraclitus. Dia bahkan berkata bahwa “Pyrrhonisme adalah jalan menuju filsafat Heraclitus”[18] meskipun pengikutnya seperti Sextus Empiricus tidak setuju dengan pernyataan ini.

Aenesidemus mengembangkan tafsirannya sendiri tentang gagasan filsuf yang dikenal tidak jelas tersebut, terutama gagasan Heraclitus mengenai kebenaran dan kesatuan dua hal yang berlawanan.

Heraclitus menganggap bahwa hal-hal yang kontradiksi hakikatnya sama dan satu. Gagasan ini diteruskan oleh Aenesidemus bahwa hal-hal yang berbeda dan saling bertolak belakang pada dasarnya sama, yaitu sama-sama penampakan atau kesan.

Jadi jika kita memiliki pemahaman berbeda tentang sesuatu, misalnya madu, itu bukan berarti kita memahami sesuatu yang berbeda melainkan kita memiliki kesan yang berbeda tentang sesuatu yang sama. Sebab pada akhirnya, manis-tidaknya madu, keduanya sama-sama hanyalah kesan. Keduanya tidak menjelaskan hakikat madu itu sendiri.

Catatan Kaki

[1] Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Hal. 76.

[2] Peter Adamson. Philosophy in The Hellenistic and Roman Worlds. Hal. 185.

[3] Bertrand Russel. A History of Western Philosophy. Hal. 302.

[4] R.J Hankinson. The Cambridge Companion to Ancient Scepticism. Hal. 105.

[5] Roberto Polito. Aenesidemus of Cnossus Testimonia. Hal. 5.

[6] Diogenes Laertius. Lives of The Eminent Philosophers. Hal. 597.

[7] Roberto Polito. Aenesidemus of Cnossus Testimonia. Hal. 56.

[8] John M. Cooper. Pursuits of Wisdom: Six Way of Life in Ancient Philosophy From Socrates to Plotinus. Hal. 417.

[9] John M. Cooper. Pursuits of Wisdom: Six Way of Life in Ancient Philosophy From Socrates to Plotinus. Hal. 417.

[10] Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Hal. 122.

[11] Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Hal. 121.

[12] R.J Hankinson. The Cambridge Companion to Ancient Scepticism. Hal. 105.

[13] Roberto Polito. Aenesidemus of Cnossus Testimonia. Hal. 74.

[14] Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Hal. 123.

[15] Roberto Polito. Aenesidemus of Cnossus Testimonia. Hal. 74.

[16] Diogenes Laertius. Lives of The Eminent Philosophers. Hal. 592-593.

[17] Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Hal. 140.

[18] Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Hal. 123.

Daftar Pustaka

Bertrand Russell. A History of Western Philosophy. (1972). A Touchstone Book: New York.

Diogenes Laertius. Lives of The Eminent Philosophers. Terj. James Miller. (2018). Oxford University Press: New York.

Harald Thorsrud. Ancient Scepticism. Cet-2 (2014). Routledge: New York, Amerika Serikat.

John M. Cooper. Pursuits of Wisdom: Six Way of Life in Ancient Philosophy From Socrates to Plotinus. (2012). Princeton University Press: New Jersey.

Peter Adamson. Philosophy in The Hellenistic and Roman Worlds. (2015). Oxford University Press: New York.

Roberto Polito. Aenesidemus of Cnossus Testimonia. (2014). Cambridge University Press: UK.

The Cambridge Companion to Ancient Scepticism. Ed. Richard Bett. (2010). Cambridge University Press: United Kingdom.

Ilustrasi: platosacademy.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *